Menumbuhkan Karakter Simpatik

Posted on 10/02/2011

0


Seorang yang simpatik yaitu orang yang memeiliki daya tarik dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Ia selalu menebar pesona, lugas, jujur dan apa adanya. Ia tidak memaksakan diri untuk menjadi seorang yang populis, karena kepopulerannya datang dengan sendirinya. Jika seseorang berperilaku simpatik dengan sendirinya akan cepat dikenali lingkungannya. Orang yang simpatik tidak usah repot-repot mencari simpatisan, sebab di mana ada daya tarik di situ ada yang tertarik.

Individu (dalam status sosialnya masing-masing), tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi, bahkan pemerintah merupakan unit-unit yang memerlukan simpatisan. Tanpa simpatisan unit-unit itu tidak berarti apa-apa, karena tidak memiliki media untuk mengungkapkan eksistensi dan urgensinya.

Untuk menarik simpatisan tentu saja harus memiliki modal tertentu, yang bisa membangkitkan mood, interest atau keinginan para simpatisan. Modal tertentu bias berupa senyuman, keramah-tamahan, sikap bersahabat, slogan, mutu, service, profesionalitas dan sebagainya. Bahkan dalam hubungan antar individu modal tersebut sangat diperlukan. Mengingat dalam persahabatan, persaudaraan atau hubungan lainnya harus terjadi tukar-menukar daya tarik. Tanpa itu niscaya hubungan tersebut tidak akan pernah nyambung, bahkan bisa stagnan, mandek malah kontraproduktif.

Hubungan pemerintah dengan rakyat harus dilandasi tukar menukar daya tarik. Asal mulanya Partai Politik yang bakal membentuk pemerintah, begitu tertarik dengan suara rakyat, terus diberikan rayuan dan janji-janji. Nah, setelah memenangkan Pemilu, pemerintah harus tetap memberikan daya tarik bagi rakyatnya. Jika tidak, maka rakyat akan mengambil sikap untuk melengserkan pemerintah yang tidak menarik , tidak simpatik, sebagaimana terjadi di Mesir saat ini. Pemerintah yang simpatik adalah kumpulan pengelola negara yang simpatik, presiden dan seluruh pejabat yang simpatik.

Lantas apakah karakter simpatik itu bisa dimunculkan atau direkayasa. Ya, tentu saja bisa. Rekayasa karakter simpatik membutuhkan metode tertentu. Dengan belajar dan latihan secara terus-menerus. Terlebih dahulu bentuklah cara berpikir yang simpatik, kemudian tumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang simpatik, lantas temukan sikap hidup yang simpatik, sehingga akhirnya karakter simpatik pun menjelma, mengkristal. Tanpa itu, maka unsur simpatik yang diperoleh hanya semu dan sesaat, tidak melekat. (Atep Afia)

Posted in: Humaniora