Gayus dan Lima Juta Balita Rawan Gizi

Posted on 12/01/2011

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Di tengah menghangatnya pemberitaan mengenai sepak terjang Gayus, seorang “mega koruptor” yang sukses mengemplang ratusan milyar uang pajak dan mempermainkan sisitem peradilan di negeri ini, muncul berita yang memprihatinkan, yaitu lima juta anak Balita rawan gizi.

Untuk saat ini Gayus bukan sekedar bekas pegawai pajak yang menjadi sorotan publik dan namanya begitu populer di media cetak, elektronik dan online, tetapi nama Gayus sudah menjadi ikon koruptor. Masih banyak Gayus-Gayus lain, bahkan yang lebih super dari Gayus, yang saat ini bergentayangan dan terus membobol keuangan negara.

Koruptor merambah uang apa saja, bahkan dana untuk pengentasan kemiskinan dan rawan gizi Balita sekalipun. Yang ada dibenak sang koruptor bagaimana supaya sebanyak-banyaknya uang mengalir deras ke rekening pribadi atau rekenening orang-orang terdekatnya. Entah apa yang akan dilakukannya ketika uang ratusan milyar sudah dalam genggamannya, akhirnya sibuk wara-wiri ke luar negeri untuk menyembunyikannya.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia mendekati 238 juta jiwa, sekitar 28,5 juta (atau 12 persen) di antaranya adalah Balita. Ternyata dari Balita sebanyak itu 13 persen mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk, atau sekitar 5 juta Balita mengalami rawan masalah gizi.

Seandainya uang yang dijarah Gayus dan koruptor lain itu dibagikan buat Balita yang rawan gizi, mungkin masa depan mereka akan lebih cerah. Bahkan, total dana yang dikorupsi bisa membiayai pendidikan sebagian Balita di Indonesia sampai jenjang pendidikan tinggi. Tetapi tentu saja orang tua sang Balita akan menolak, bagaimanapun uang haram tidak akan memberikan keberkahan. Buat apa sehat dan berpendidikan, namun menggunakan uang curian.

Seandainya Pemerintah “berdaya” untuk menghabisi para koruptor beserta rombongannya, tentu masa depan bangsa ini akan lebih cerah, termasuk para Balita menjadi lebih sehat dan cerdas. Namun jika terjadi “impotensi” aparat penegak hukum dalam menuntaskan beragam kasus korupsi, sudah tentu uang negara atau uang rakyat yang “dicolong” akan semakin banyak.

Berbagai kegiatan pembangunan pun akan terbengkalai, termasuk pembangunan sumberdaya manusia. Untuk masa depan bangsa dan negara ini tergantung pada kualitas manusia yang berbadan, berpikiran dan berjiwa sehat. Dibutuhkan upaya pengembangan dalam bidang pendidikan, kesehatan, pangan dan sebagainya, yang semuanya memerlukan anggaran besar.

Nah, jika sebagian dana untuk membangun manusia itu “dicuri”, bagaimana jadinya kualitas manusia Indonesia di masa mendatang. Bagaimana gizi anak-anak bangsa ini jika terjadi pembiaran secara kasat mata terhadap pencurian uang rakyat secara kolektif.

Lima juta balita saat ini rawan giji. Lima juta kalau ditulis menggunakan angka 5.000.000, sangat banyak, perlu penanganan “sangat serius sekali”. Sama sekali tidak bisa diabaikan atau hanya dijadikan bahan laporan statistik saja. Lima juta Balita tersebut tersebar di seluruh Propinsi di negari ini, mulai dari yang kondisinya “sangat-sangat” mengenaskan sampai yang mengenaskan.

Beberapa daerah tercatat dengan kondisi gizi buruk Balita paling parah, seperti NTB, NTT, Maluku dan Sulawesi Barat. Bahkan di NTB angka kematian bayi menduduki peringkat tertinggi, 72 per 1.000 kelahiran hidup. Dengan kata lain, dari 1.000 bayi yang dilahirkan, 72 di antaranya meninggal.

Memang begitu “teganya-teganya-teganya” sang koruptor. Gayus dkk mengemplang uang pajak, padahal sebagian uang yang dengan susah payah dihimpun dari wajib pajak itu bakal dialokasikan untuk mendanai kesehatan masyarakat, termasuk para Balita.

Seorang Balita kurang gizi yang lemah, letih, lesu dan lunglay dengan mata belo dan perut buncit memperhatikan gambar Gayus yang terpampang di sebuah koran usang. Lantas dari mulut keringnya keluar suara parau dan lemah … “Pppaaapahhh ….”. (Atep Afia)

 

 

 

Posted in: Hukum