Ditelan Dunia Maya

Posted on 08/01/2011

1


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Belakangan makin banyak orang menghilang dari peredaran, salah satu penyebabnya ternyata kesibukannya di dunia maya. Ya, fenomena daya tarik dunia maya begitu mengasyikan, memukau, menghanyutkan, bahkan menelan siapa saja yang aspek kontrol diri dan emosinya lemah.

Coba tengok kanan-kiri rumah, makin banyak saja tetangga yang jarang keluar rumah. Sepulang kerja, sekolah atau aktivitas lain yang bersifat outdoor, langsung raib tidak ada lagi penampakannya. Beberapa sudut jalan dan gang menjadi sepi, tidak ada lagi cengkrama dan obrolan santai. Ternyata makin banyak yang beralih pada kesibukan dengan internet, ada yang sekedar browsing, chating, meng-update status, atau memposting tulisan dan karya lainnya. Ya, makin banyak saja orang yang online, perasaan, pikiran dan indra-nya hanyut dalam dunia maya.

Dunia maya memang bisa memberikan efek positif, seperti kemampuan teknologinya memungkinkan setiap orang untuk “berjumpa” dengan siapapun, kapanpun dan dari atau di manapun. Tidak ada lagi batas tempat dan waktu, dalam kotak chating siapapun bisa masuk. Namun tentu saja perjumpaan ini tidak semuanya bernuansa positif dan produktif, banyak juga bersifat sebaliknya. Karena jauh lebih bebas dan terbuka, seringkali menembus batas-batas susila. Di sisi lainnya, dunia maya bisa juga menjadi pintu terjadinya kriminalitas seperti penipuan, penculikan, pelecehan, dan sebagainya.

Komunikasi di dunia maya bisa melibatkan berbagai dimensi, bisa tulisan, suara, gambar bergerak, atau perpaduan ketiganya. Kemajuan teknologi informasi seperti web-cam, 3 G, 3,5 G bahkan mungkin 4 G, menyebabkan interaksi dan komunikasi semakin intensif dan personal. Dalam hal ini terjadi ujian terhadap kontrol diri dan emosi, apakah fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk tujuan positif atau sebaliknya.

Terlalu intensif berhubungan dengan atau melalui dunia maya sudah tentu menyebabkan kerenggangan hubungan sosial di dunia nyata. Di sebuah rumah misalnya, masing-masing anggota keluarga asyik dengan mainannya masing-masing, ada yang asyik di depan layar monitor komputer, ada yang larut di depan layar televisi, ada yang terbawa dan terhanyut dalam kecanggihan HP, BB, iPad, dan sebagainya. Masing-masing senyum-senyum sendiri, bahkan cungar-cengir didepan benda kesayangannya. Nyaris tidak peduli dengan orang di sekitar, kalaupun ada interaksi hanya ala kadarnya dan tidak ada keeratan emosional atau sambung rasa. Ya, suasana psikologis keluarga menjadi dingin, bahkan beku.

Karena kecanggihannya, perangkat dunia maya tidak hanya bisa dioperasikan di dalam rumah, tetapi di manapun, karena makin bersifat mobil. Dampak yang terjadi “pendinginan sosial” pun makin meluas. Dalam sebuah keramaian atau kumpulan orang, interaksi sesama menjadi minimalis, masing-masing sibuk dengan perangkat dunia mayanya. Makin banyak orang yang ditelan dunia maya, bahkan menjadi sulit untuk kembali ke dunia nyata. Jika perangkat dunia mayanya mengalami gangguan, maka terjadi kehampaan dan seolah asing dengan dunia nyata.

Aspek kontrol diri dan emosi dalam pemanfaatan perangkat dunia maya menjadi sangat penting. Bagaimanapun dunia nyata jauh lebih penting dibanding dunia maya. Sepuluh teman di dunia nyata kenyataannya jauh lebih penting dibanding seribu teman di dunia maya.

Pertemanan di dunia maya memang penting, tetapi sebagian teman tersebut ternyata fiktif, bukan profil yang sebenarnya, bahkan bertujuan kurang baik. Ada yang sekedar iseng tanpa motivasi yang jelas, namun ada juga yang mengemban misi tertentu, misalnya menyebarkan pemikiran dan ajaran sesat, atau dengan motivasi kriminal tertentu. Sudah banyak terjadi kasus kejahatan yang bersumber dari dunia maya. Oleh sebab itu, perlu kewaspadaan dengan pikiran dan perasaan yang matang serta terkendali, terutama dalam beraktifitas dalam situs jejaring sosial.

Perkembangan teknologi informasi memang tidak bisa dibendung, berbagai perangkat atau gadgetnya semakin canggih saja. Dua sisi yang dihadirkannya akan menerpa siapa saja, namun kita punya kebebasan untuk memilih, mau meng-askes yang positif atau negatif. Selain itu, jangan mudah ditelan dunia maya, bagaimanapun kita harus berkiprah di dunia nyata. (Atep Afia)

 

 

 

Posted in: Media