Efek Jomblo : Kepunahan Suatu Bangsa ?

Posted on 06/01/2011

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 (SP 2010) jumlah penduduk Indonesia telah melebihi 237 juta jiwa. Luar biasa, orang Indonesia ternyata begitu banyak, kalau seluruhnya dalam posisi berbaris dengan jarak setengah meter, panjang barisan akan mencapai 118.500 km, hampir 3 kali kaliling Planet Bumi !

Orang Indonesia setiap detik bertambah, dari penjuru mana saja, bisa dari kota atau desar, barat atau timur, pesisir atau pegunungan. Orang Indonesia juga banyak yang meninggal, tetapi tidak sebanyak yang dilahirkan, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) masih sekitar 1,49 persen per tahun.

Tak dapat dipungkiri adanya pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia, antara lain karena banyaknya pernikahan untuk membangun mahligai rumah tangga yang menghasilkan keturunan. Lebih jauh lagi kesinambungan pertumbuhan penduduk tersebut, akan berpengaruh terhadap eksistensi suatu bangsa.

****

Berbeda dengan jumlah penduduk Jepang yang sudah cenderung menyusut, kalau pada tahun 2010 mencapai 127 juta jiwa, maka pada 2050 diprediksi menjadi 90 juta jiwa. Salah satu penyebabnya ialah makin banyaknya pria dan wanita yang cenderung memilih jadi lajang. Data dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menunjukkan, bahwa penduduk berumur 30 hingga 34 yang berstatus lajang sekitar 30.6 persen (1980). Lantas cenderung meningkat: 46.5 persen (1990), 57 persen (1995) dan 79.1 persen (2005).

Otak orang Jepang memang sangat rasional, banyak yang takut menikah karena hasil perhitungan menunjukkan tidak bakal mampu membiayai rumah tangga. Selain ada kecenderungan status lajang tidak dianggap lagi sebagai “cacat sosial”; adanya tradisi nomikai (pesta minum) dan bermain judi yang menyebabkan pemborosan; dan jam kerja yang terlalu lama; penyebab muda-mudi Jepang takut menikah ialah gaji yang tidak memadai, untuk laki-laki berusia rata-rata 35 tahun memperoleh penghasilan kurang dari 2 juta yen per tahun (sekitar Rp. 200 juta). Untuk kondisi di Jepang dengan gaji sebesar itu, hanya memungkinkan muda-mudi Jepang untuk menetap di rumah orang tua, maka munculah istilah “parasit lajang”.

Budaya industri yang kental di Jepang memang menyebabkan orang Jepang sebagian waktunya tercurah di industri, dan sangat kurang untuk mengembangkan interaksi sosial. Hubungan insan berlainan jenis menjadi semakin dingin, pada akhirnya makin jarang yang membina hubungan serius sampai pernikahan. Orang yang menikah semakin langka, sudah tentu wanita hamil pun menjadi jarang, dan ujungnya angka kelahiran bayi makin menyusut.

Efek lanjut dari fenomena parasit lajang memang tidak sederhana, terutama terhadap menurunnya jumlah penduduk Jepang. Jika dibiarkan berlarut, jumlah penduduk yang terus menyusut akan menjadi ancaman terhadap eksistensi suatu bangsa. Bisa saja bangsa tersebut menjadi musnah. Sejarah telah mencatat memang banyak bangsa yang telah mengalami kepunahan, terutama disebabkan bencana, perang dan wabah penyakit.

***

Fenomena parasit lajang memang tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga di negara lainnya seperti di Amerika Serikat dikenal dengan istilah twixter, di Inggris disebut KIPPERS (kid’s in parents’ pockets erroding retirement savings), Italia (bamboccioni), Kanada (boomerang), Jerman (nesthockers), Perancis (tanguy syndrome), Korea Selatan (kangaroos), dan di Indonesia mungkin bisa disebut jomblo.

Menjomblo memang merupakan hak asasi dan sebuah pilihan hidup. Namun persoalannya jika mayoritas muda-mudi suatu bangsa berstatus jomblo, maka dampaknya sangat serius, yaitu kepunahan bangsa tersebut. Apalagi kalau mayoritas generasi muda umat manusia menjomblo, maka bisa menyebabkan kepunahan umat manusia di Planet Bumi. (Atep Afia).

 

 

 

Posted in: Humaniora