Tanam Jagung untuk Atasi Pengangguran

Posted on 13/12/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Cari kerja di negara kaya raya, subur makmur dan gemah ripah ini kok susah banget. Setiap ada lowongan PNS selalu oleh diserbu ribuan sampai ratusan ribu pelamar. Banyak TKI yang menjadi korban penganiyaan di Malaysia dan negera-negara Timur Tengah, bahkan tak sedikit yang meninggal. Pernah juga diberitakan puluhan nelayan Indonesia baru dibebaskan dari penjaran di Australia, kapal-nya di bakar, karena kedapatan memasuki perairan negara tersebut.

Duh kasihan anak bangsa, apa benar cari makan di negara sendiri ini susah. Katanya negara ini secara sumberdaya alam, nomor dua atau tiga terkaya di dunia. Ya, itu tadi yang pengelola negara kurang mampu atau tidak serius.

Padahal di negeri ini lahan begitu luas, bahkan banyak yang diterlantarkan. Di sekitar Jabodetabek saja ada 85 ribu hektar lahan dibiarkan kosong oleh para spekulan. Tersebar mulai dari Kota dan Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, seluruh wilayah DKI Jakarta, Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi, serta Kota dan Kabupaten Bogor. Dulunya tanah produktif atau perkampungan, kemudian dibeli dengan harga tak seberapa. Setelah itu dibuatkan benteng dan dikasih papan nama, milik PT Anu.

Kalau 85 ribu hektar itu diambil negara (sesuai dengan UU Agraria kalau sebidang lahan dibiarkan terlantar selama beberapa tahun tertentu, maka negara berhak mengambil alih lahan tersebut), kemudian ditanami jagung, maka sekitar 850 ribu orang akan bekerja. Nah, kalau seandainya di seluruh Indonesia ada 1 juta hektar lahan terlantar yang bisa ditanami jagung, maka sekitar 10 juta orang penganggur dari jumlah penganggur yang mencapai 40 juta akan tertampung di kebun jagung.

Menurut data Badan Pertanahan Nasional (BTN), ada sekitar 7,8 juta hektar tanah terlantar di Indonesia yang bisa digunakan untuk pertanian, energi dan perumahan rakyat diseluruh Indonesia. Badan Pertanahan Nasional (BPN) akan terus melakukan pemetaan tanah-tanah terlantar agar bisa dimanfaatkan petani. (detikNews).

Lalu jagungnya dikemanakan, jangan dijual mentah, jadikan beragam produk seperti makanan ringan, makanan ternak, minyak, biodiesel, dan sebagainya. Nah, dari agroindustri ini saja akan terserap setidaknya 100 ribu orang, termasuk dibutuhkan ribuan sarjana berbagai bidang seperti Agronomi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Teknik Industri, Mesin, Elektro, Informatika, Akuntansi, Manajemen, dan sebagainya.

Gagasan sederhana ini dapat diterapkan, bahkan sewaktu Fadel Muhammad jadi Gubernur Gorontalo, program agribisnis jagung berhasil diterapkan dan mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat. Yang terpenting ialah adanya kemauan politik dan sinergi dari kementerian/departemen dan badan di lingkungan Pemerintah yang terkait, seperti pertanian, koperasi, sosial, pertanahan, perdagangan, perindustrian dan tentu saja Pemda. Kalau gerakan ini berhasil, maka lagu ” Cangkul….cangkul….cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita”, akan semakin populer.

Bagaimana kalau liriknya sedikit diubah, mohon maaf , ” Traktor…traktor…..traktor yang luas, mentraktor koruptor …di negara kita”. Ya, tepat, hambatan semua upaya untuk mensejahterakan rakyat, adalah koruptor. Jangan sampai kelak koruptor hadir di kebun jagung kita. (Atep Afia)

 

 

 

Posted in: Kewirausahaan