Petani Harus Jadi Presiden

Posted on 13/12/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Dari jaman ke jaman persoalan beras selalu mencuat. Dalam sejarah Republik tercinta ini, belum ada satu presiden pun yang mampu menangani persoalan berasa secara tuntas. Memang pada jaman Orde Baru kita seolah-olah swasembada beras, khususnya mulai tahun 1984. Tapi itu tidak bertahan lama, kenyataannya impor masih tetap berjalan.

Beras menjadi komoditas ekonomi sekaligus politik, presiden bisa jatuh karena hanya persoalan beras. Kondisi sekarang, di mana harga beras sudah melampaui Rp. 7.000,- per liter di beberapa daerah, menyebabkan penduduk miskin tambah melarat. Antrian untuk mendapatkan beras sering terjadi berbagai tempat. Menyaksikan fenomena ini kita merasa miris sebagai bangsa, di mana jaman sudah berubah ke arah teknologi canggih, kita masih berurusan dengan beras.

Anehnya lagi, harga beras makin melambung, tetapi mayoritas petani tetap miskin. Suatu fenomena yang sangat tidak logis. Lantas, siapa yang menikmati kenaikan harga beras ?, siapa yang mempermainkan harga beras ?, lalu peran pemerintah bagaimana ?, ke mana ajah pemerintah, seperti tidak berkutik ..

Padahal kalau mau melihat Cina dan India, yang penduduknya miliaran, mereka tidak dipusingkan dengan soal beras. Karena pembangunan yang dijalankan dikedua negara tersebut bertahap fokusnya, pertanian dulu, baru agroindustri, industri madya, industri berteknologi tinggi, baru teknologi informasi. India misalnya, kini sudah menyaingi Amerika Serikat dalam soal IT.

Solusi untuk mengatasi perberasan, ya sebaiknya pemerintah jangan meng-anaktiri-kan atau me-marjinal-kan sektor pertanian. Sekarang pertanian itu dipandang sebelah mata, sawah digusur jadi perumahan dan industri, perani beralih profesi menjadi buruh di perkotaan. Akhirnya, kelak tidak ada lagi yang memproduksi beras.

Ke depan, sebaiknya Presiden kita dari kalangan perani. Kenapa ? Negara kita akan kuat kalau terlebih dahulu pertaniannya kuat. Selain itu, mayoritas penduduk adalah petani, terutama petani padi. Selama ini petani banyak dikibuli, mulai dari pupuk dan pestisida palsu, harga gabah dipermainkan, cari kredit sulit. K

asihan petani. Makanya kompak donk, para petani jangan mau dibuai mimpi dan janji gombal Parpol yang ada, yang kenyataannya sampai sekarang belum bisa berbuat banyak bangi petani. Parpol-Parpol itu hanya menjadikan petani sebagai lumbung suara, setelah itu habis manis sepah dibuang. Oleh sebab itu segera bentuk Partai Petani Indonesia, menangkan Pemilu 2014, kuasai DPR/DPRD, jadilah prediden. Sebagai pembanding, Amerika Serikat sangat mantap di bawah kepemimpinan Presiden Jimmy Carter, seorang petani kacang.

Stop impor beras, bangkitkan gairah petani indonesia. Hidup beras, hidup petani ……. (Atep Afia)

 

 

Posted in: Politik