Mengenang Nasib Tukang Minyak Keliling

Posted on 13/12/2010

1


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Satu atau dua tahun yang lalu. di setiap sudut pemukiman atau perkampungan, aktivitas penjual minyak tanah keliling menjadi pemandangan sehar-hari, bahkan suara nyaringnya itu “minyaaakkk, nyaaakk….”, selalu terngiang-ngiang, terutama di telinganya ibu-ibu yang biasa di dapur.

Pedagang minyak keliling jumlahnya menjapai puluhan ribu orang, dan dari usahanya itu berhasil menafkahi ratusan ribu orang lainnya. Lantas, ketika persediaan minyak tanah perlahan dikurangi, bahkan akan hilang, apa yang harus mereka lakukan. Jualan gas ? Tidak semudah itu. Padahal di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun berdagang minyak, sehingga menjadi profesi tersendiri.

Persoalannya, apakah kasus tersebut sempat terpikirkan oleh para pengambil kebijakan. Memang dengan adanya konversi minyak tanah ke gas, akan terjadi penghematan subsidi pemerintah ratusan miliar rupiah. Hanya dampak lainnya ternyata membengkakan jumlah pengangguran. Padahal kemampuan pemerintah sekarang dalam menciptakan lapangan kerja sangat terbatas. Kebijakan konversi minyak tanah ke gas, semestinya memperhitungkan berbagai dampak yang terjadi. Kenyataannya ujung tombak distribusi minyak tanah ke masyarakat adalah bukan Pertamina, tetapi tukang minyak tanah.

Nah, semoga suara tukang minyak disiang hari bolong, sekarang terngiang-ngiang di telinga Direktur Pertamina, Menteri Pertambangan dan Energi, bahkan Presiden RI. Bagaimanapun, mereka adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak untuk mempertahankan hidup, untuk memperbaiki kesejahteraan. Lantas, bagaimana solusi pemerintah untuk para pedagang minyak ? Nyaris tak terdengar ….

Kalau dengan alasan pengurangan subsidi negara atau penghematan keuangan negara, sebenarnya banyak jalan lain yang bisa ditempuh, misalnya dengan efisiensi di seluruh instansi pemerintah yang terkenal boros, dengan sebagian pejabat yang rakus. Tengoklah di perumahan-perumahan pegawai negara, setiap hari mobil ber plat merah nongkrong di situ, bahkan pejabat kelas rendahan pun sudah berani mendayagunakan aset negara tersebut. Untuk keperluan dinas ? Tidak selalu, ternyata banyak dipakai untuk keperluan pribadi, bahkan
dimanfaatkan anaknya sekedar jalan-jalan. Nah lho ! Ini sebenarnya yang perlu ditertibkan, supaya anggaran negara bisa dihemat.

Upaya peningkatan efisiensi keuangan negara, dengan cara mengurangi subsidi BBM dan substitusi minyak tanah ke bahan bakar gas, telah “mengorbankan” kelangsungan usaha dan nasib sekian banyak tukang minyak keliling. Sudah semestinya, seluruh aparat pemerintah pun turut “berkorban”, antara lain melalui peningakatan kinerja dan pengurangan korupsi sampai tingkat paling rendah. Para petinggi negara yang ada di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, sudah semestinya berdiri di barisan terdepan dalam upaya mengurangi, bahkan meng-enol-kan penghamburan, pemborosan dan penggelapan uang rakyat, Masa kalah sama tukang minyak keliling, yang “rela” berkorban demi kelangsungan bangsa dan negara. ” ..Nyak ….minyaaakk” (Atep Afia)

Posted in: Ekonomi