Gunung Kidul Ekspor Gudeg Kaleng

Posted on 30/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat

Gunung Kidul merupakan sebuah kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan luas wilayah mencapai 1.485 km2, atau sekitar 46,6 persen dari luas DIY. Jumlah penduduk Gunung Kidul mencapai 700 ribu jiwa, tersebar di 18 kecamatan dan 144 desa/kelurahan. Ibukota Kabupaten Gunung Kidul berlokasi di Wonosari, dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dengan mobil dari Kota Yogyakarta. Wilayah Gunung Kidul didominasi pegunungan kapur dan perbukitan, kondisi alam relatif tandus dan pada musim kemarau kerap dilanda kekeringan.

Jelas Gunung Kidul bukan merupakan daerah pertanian yang subur. Daerah ini kurang bisa mengandalkan hasil pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Namun daerah ini memiliki peluang untuk pengembangan industri olahan hasil pertanian (agroindustri). Kawasan agroindustri bisa dikembangkan di sini, tentu saja perlu dukungan infrastruktur yang memadai. Untuk kepentingan ekspor bisa menggunakan fasilitas Pelabuhan Semarang.

Ternyata diam-diam Gunung Kidul sudah berhasil mengekspor gudeg dalam kaleng ke pasar luar negeri, bahkan mencapai Belanda dan Arab Saudi. Produk tersebut diproduksi oleh Gudeg Bu Citro dengan lisensi dari LIPI. Proses pemasaran dan distribusi produk gudeg kaleng, selama ini diselenggarakan oleh Koperasi LIPI Gading (Koliga). Koliga sendiri beralamat di Jl. Wonosari – Yogyakarta Km 4, Gading, Playen, Gunungkidul. Tempat yang juga menjadi kantor UPT BPPK LIPI Yogyakarta.

Gudeng dalam kaleng merupakan hasil inovasi Unit Pelaksana Teknis, Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BPPK LIPI) di Kabupaten Gunung Kidul. Proses riset sudah berlangsung mulai 2005. Fokus riset ialah mengkaji daya tahan masakan gudeg yang dikemas dalam kaleng. Ternyata proses pengalengan, bisa membuat gudeg bertahan dalam kaleng selama selama dua-tiga tahun. Prinsip utamanya ialah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap pengepakan masakan gudeg ke dalam kaleng. Untuk strerilisasi gudeg dalam kaleng, digunakan teknologi hampa udara dengan suhu melebihi 121 derajat celsius, dengan tekanan dua atmosfer. Pada kondisi yang demikian, bakteri dekomposer mati. Gudeg dalam kaleng produk Gunung Kidul pun ternyata bebas bahan kimia yang biasanya digunakan sebagai pengawet.

Dalam perkembangannya UPT BPPK LIPI Gunung Kidul pun, pada Januari 2010 berhasil meraih Nomor BPOM MD : 555112001035. Selain itu juga memperoleh Label Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), setelah terlebih dahulu melakukan tahapan proses uji klinis, sebagai prasyarat akhir sebelum dikomersialkan.

Selain gudeg, produk dalam kaleng lainnya ialah sayur lombok ijo, tempe kari, dan mangut lele. Langkah ke depan diversifikasi produk mungki akan terus dilakukan.

Terobosan LIPI di Gunung Kidul tentu saja perlu ditindak-lanjuti dengan pengembangan skala produksi, sehingga nilai ekonomi yang diperoleh makin membesar. Hal tersebut jelas akan memberikan nilai tambah secara langsung bagi kesejahteraan masyarakat Gunung Kidul. Kalau LIPI sebagai pemrakarsa bekerjasama dengan Pemda Gunung Kidul, dan didukung oleh dunia usaha nasional, maka Gunung Kidul akan tumbuh menjadi sentra industri makanan kalengan, khususnya makanan khas daerah setempat. Upaya ini diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan, menambah lapangan kerja, memberdayakan potensi ekonomi lokal, bahkan menambah devisa negara. (Atep Afia)

 

Dipublikasikan juga melalui :

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/11/30/gunung-kidul-ekspor-gudeg-kaleng/

 

 

 

Posted in: Ekonomi