Temulawak untuk Pengobatan Hepatisis B

Posted on 30/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Temulawak (Curcuma xanthorriza) merupakan tanaman tahunan, dengan cirri utama rimpang berukuran besar, berwarna cokelat kemerahan atau kuning tua. Di Jawa Barat tanaman ini dikenal dengan nama koneng gede. Belakangan ini temulawak makin “naik daun”, harganya mencapai US$ 300/ton, dengan tingkat permintaan dunia mencapai 30.000 ton per ahun, sedangkan Indonesia baru bisa menyuplai 10 persen. Meningkatnya nilai ekonomi temulawak, terutama disebabkan informasi yang meluas menyangkut khasiatnya dalam meredakan penyakit seperti hepatitis B. selain itu, terjadi peningkatan minta masyarakat terhadap obat-obatan dari tumbuhan alami (fitofarmaka). Berdasarkan catatan Kontan (Desember 2000), tahun 2000 omzet obat alami secara nasional mencapai Rp 1 triliun, dan tahun 2001 diperkirakan meningkat jadi Rp 1,4 triliun. Sementara pada Symposium Internasional Temu Lawak yang berlangsung 27-28 Mei 2008 di IPB, terungkap omzat obat alami atau obat tradisional tahun 2007 mencapai Rp 4 triliun, dan tahun 2008 menjadi Rp. 7,2 triliun.

Bagaimana mekanisme atau cara kerja temulawak dalam memerangi penyakit hepatitis, belum ditemukan data yang akurat. Namun, berdasarkan pengalaman masyarakat, khasiat temulawak sudah dikenal sebagai jamu yang ampuh untuk mengatasi sebah perut atau penyakit kuning (lever sakit kuning).

Pengalaman dr. Melly Budhirman, seorang psikiater di Jakarta, sebagaimana diungkapkan dalam Intisari (September 1996), berawal dari gejala-gejala cepat lelah, nafsu makan menurun drastics kadang-kadang sampai muntah, dan bola mata kekuningan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata terserang virus hepatitis B, yang kemungkinan ditularkan melalui jarum suntik yang tercemar virus.

Dalam perkembangannya, berdasarkan pemeriksaan lengkap melalui scanning dan biopsy dinyatakan menderita hepatitis kronis aktif, kemudian berkembang menjadi sirosis hepatitis. Satu-satunya obat yang diberikan, kortikosteroid dengan dosis cukup tinggi 4 x 10 mg. Namun ternyata menimbulkan efek samping berupa bengkak-bengkak pada tubuh, dan pemeriksaan fungsi hati menunjukkan hasil yang buruk. Setelah memperoleh informasi menyangkut khasiat temulawak, dr.Melly lantas mengkonsumsi sari temulawak (rebusan temulawak) selama empat bulan berturut-turut. Hasil biopsy oleh Dr.Sadikin Darmawan, seorang patolog senior, menyatakan bahwa kondisi hati dr.Melly sehat. Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh seorang ibu di Bandung, setelah menempuh pengobatan alternative di Garut selama lebih dari setahun (menggunakan ramuan tradisional, dengan bahan utama temulawak), penyakit hepatitisnya dinyatakan sembuh.

Penyakit hepatitis merupakan infeksi oleh virus (penyakit peradang pada hati). Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A, Hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B, dan Hepatitis C disebabkan oleh virus Hepatitis C. Masih ada jenis lainnya yaitu Hepatitis Delta dan Hepatitis E yang kurang dikenal di Indonesia.

Menurut Dr. Efendi Oswari, DPH (1995), Hepatitis A umumnya ditularkan melaui mulut, misalnya gelas atau sendok bekas yang dipakai penderita Hepatitis A. Bisa juga melalui keringat penderita atau melalui jarum suntik bekas.

Virus Hepatitis B dapat ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui ibu hamil. Bayi yang terserang virus, system kekebalannya belum berkembang dengan sempurna, sehingga akan menjadi pengidap kronis (sakit bertahun-tahun). Bila bayi pengidap itu wanita, kemungkinan besar akan meularkannya pada anak-anaknya dikemudian hari. Bila tidaj ditangani, dalam jangka waktu 20-40 tahun kemudian, bayi pengidap virus berpeluang menjadi orang dewasa yang mengalami sirosis hati (hati membatu), yang akhirnya berubah menjadi kanker hati. Sementara Prof. dr. Suwandhi Widjaja SpPD, PhD (2001), pakar hepatologi, meyatakan bahwa infeksi virus Hepatitis B pada anak berusia dibawah limatahun (balita), ternyata bukan hanya terjadi karena transmisi vertical dari ibu ke bayinya dan dari infeksi perinatal. Namun infeksi itu lebuh banyak terjadi karena transmisi horizontal lewat kontak keluarga, seperti penggunaan alat makan, sikat gigi dan gunting kuku bersama.

Penularan Hepatitis C pada orang dewasa bisa terjadi melalui kontak seksual, makanan dan minuman, suntikan atau transfuse darah. Penyakit Hepatitis C berbahaya karena dapat berkembang menjadi kronis, menahun dan menjadi sumber infeksi bagi orang sekitarnya.

Dari data epidermologik, penyakit hati menahun dan karsinoma (kanker) hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B dan virus Hepatitis C, merupakan penyakit peringkat lima yang tersering di Indonesia. Menurut Prof. dr. Suwandhi Widjaja SpPD, PhD (2001), saat ini di Indonesia diperkirakan ada 7 juta pengidap virus Hepatitis B dan 5 juta penderita Hepatitis C, dengan perkiraan angka kematian sebagnyak 40.000-80.000 penderita setiap tahunnya. (Atep Afia)

Posted in: Kesehatan