Ketika Ekosistem “Dihancurkan”

Posted on 15/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Manusia atau mahluk hidup apapun senantiasa membutuhkan lingkungan, baik fisik atau biologis. Manusia sebagai aktor utama dalam ekosistem global, ternyata bersikap kontra-produktif terhadap ekosistemnya. Hampir setiap orang berperan dalam pengrusakan ekosistem. Cara berpikir, kebiasaan, sikap dan karakter sebagian besar manusia belum bersahabat dengan ekosistem. Setiap saat hampir setiap orang cenderung “mencederai” atau “membuat luka” ekosistem.Terjadi akselerasi kerusakan ekosistem yang begitu hebat. Memang ada upaya untuk menghambat kerusakan yang kian parah, namun kebanyakan upaya masih bersifat seremonial, masih cenderung lips-service. Di sisi lainnya mereka yang memproklamirkan diri sebagai “pencinta lingkungan” atau sekedar “pemerhati lingkungan”, jauh lebih sedikit dibanding “perusak lingkungan” dan “penghancur lingkungan”. Ternyata cara berpikir sebagian orang tentang ekosistem masih keliru, sebagai contoh ketika dihadapkan pada sampah plastik dalam ukuran sekecil apapun, kebanyakan orang seolah tanpa beban membuangnya ke tanah.

Secuil plastik, bahkan seukuran bungkus permen, atau yang lebih kecil lagi, kalau dibuang ke permukaan tanah tentu sangat mengganggu. Tanah adalah bagian dari ekosistem, peranannya dalam mendukung kehidupan manusia begitu vital. Tanah bukan sekedar tempat menanam bahan pangan, sandang atau papan, tanah juga merupakan tempat menympan air. Melalui pori-pori tanah air hujan meresap tersimpan sebagai air tanah. Nah, dengan tertutupnya permukaan tanah oleh bungkus permen, plastik lain atau bahan kedap air lainnya, maka aliran air menjadi terhambat. Bayangkan kalau plastik itu begitu banyak, termasuk kantong keresek, bekas peralatan rumah tangga, dan sebagainya. Permukaan tanah itupun terus-menerus diselimuti aspal dan beton, sehingga permukaan terbuka semakin berkurangluasnya.

Sebagai dampak dari ketidakselarasan siklus air, maka terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan yang berat pada musim kemarau. Saat musim hujan air yang datang dilewatkan begitu saja, tidak ada upaya untuk ditabung di dalam tanah atau di tempat-tempat penampungan tertentu seperti embung, waduk dan danau. Saat musim kemarau, cadangan air di atas dan di permukaan tanah itu sudah tidak ada lagi, sehingga berdampak terhadap penurunan produksi pertanian, penurunan kualitas sanitasi, sehingga bencana kelaparan dan penyakit menularpun mewabah.

Dengan berbagai semboyannya banyak kelompok masyarakat yang mencoba “menyelamatkan bumi”. Padahal intinya bukan bumi yang harus diselamatkan, justru kehidupan umat manusia itulah yang harus diselamatkan. Bagaimanapun bumi hanya sekedar ekosistem, erannya sebagai habitat manusia dan mahluk lainnya. Dengan demikian, manusialah yang berkepentingan terhadap bumi, mungkin bumi sama sekali tidak berkepentingan dengan manusia. Bahkan kalau bumi bisa berbicara, sepertinya bumi telah muak dengan perilaku manusia, yang sangat membutuhkan bumi tetapi mensia-siakan, mencampakan bahkan merusaknya secara perlahan-lahan. (Atep Afia)

 

 

 

Posted in: Lingkungan