Dosen Sebagai Motivator

Posted on 13/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Memberikan semangat atau motivasi itulah inti dari pekerjaan seorang dosen atau staf pengajar di perguruan tinggi. Setiap hari dosen berhadapan secara fisik, mental dan intelektual dengan mahasiswa. Sebenarnya kondisi mahasiswa dalam kaitannya dengan motivasi belajat tidak homogen, amat bervariasi. Dengan pendekatan sederhana mahasiswa dalam kaitannya dengan motivasi dan kemampuan belajar dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok :

1. Mau dan mampu

2. Mau tetapi tidak mampu

3. Tidak mau tetapi mampu

4. Tidak mau dan tidak mampu

Kelompok pertama populasinya tidak banyak, maksimum hanya 25 persen. Mahasiswa kelompok itu motivasi belajarnya sudah tinggi, apabila diberikan tugas diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Mahasiswa kelompok 2 berkisar antara 25 – 50 persen, butuh motivasi yang lebih hebat. Apabila ditangani dengan baik, sebagian kelompok mahasiswa ini bisa naik ke kelompok 1. Mahasiswa kelompok 3, bervariasi antara 25 – 50 persen, memerlukan motivasi yang lebih hebat lagi. Sedangkan mahasiswa kelompok 4 maksimum 25 persen, kelompok inilah yang penanganannya paling berat, terkadang seperti air dengan minyak, tidak nyambung. Kelompok ini cenderung mengindari tugas, bahkan banyak yang tidak tahu-menahu tentang tugas apa yang diberikan. Sikap yang demikian karena kesalahan persepsi dalam mengaggap bahwa kuliah di perguruan tinggi itu mudah. Padahal tentu saja tidak demikian, untuk menyelesaikan jenjang pendidikan S1, apalagi S2 dan S3, perlu fokus, konsentrasi dan ketekunan.

Staf pengajar lebih difungsikan sebagai motivator, bukan sekedar transformator ilmu dan pengetahuan. Kalau sekedar transformator, peran staf pengajar dengan mudah bisa digantikan oleh kecanggihan internet, karena beragam web edukasi sudah tersedia, mau ilmu dan teknologi apa saja, mau dalam bahasa apa saja, komplit. Cari jurnal, modul, bahan presentasi, tinggal klik, klik dan klik. Nah, pergeseran fungsi staf pengajar ini, harus disertai pendekatan dari hati ke hati yang lebih mendalam. Bagaimanapun setiap mahasiswa peserta didik memiliki hati yang sangat peka, melalui pendekatan tertentu bisa diberikan motivasi, terutama menyangkut makna dan hakikat belajar. Jadikan institusi tempat mengajar sebagai “Universitas Kehidupan” yang bakal meluluskan “Sarjana Kemanusiaan”. (Atep Afia)

 

 

 

Posted in: Edukasi