Andai Obama Kunjungi Merapi

Posted on 10/11/2010

0


Oleh Atep Afia Hidayat –

Waktu menunjukkan pukul 02.05 WIB, hari Rabu, 10 November 2010. Berarti hari ini adalah “Hari Pahlawan”, saat di mana Bangsa Indonesia mengenang betapa heroiknya para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, khususnya perjuangan Bung Tomo dan kawan-kawan di Kota Pahlawan, Surabaya. Pada tanggal 10 November 2010, Barack Obama sedang berkunjung di Indonesia. Nanti siang dijadwalkan mengunjungi Masjid Istiqlal dan berpidato di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok. Apa arti penting di balik dua kegiatan Obama tersebut, pembahasannya bisa meluas dan tergantung perspektif setiap orang. Hal yang terpenting kita berbaik sangka saja lah ….

Seputar Istana Presiden dan tempat menginap Obama dan rombongannya, malam ini mendapat penjagaan ekstra ketat. Polisi dan tentara berjaga-jaga dengan persenjataan lengkap. Pihak keamanan tidak mau ambil risiko barang sedikit pun. Untuk kepentingan kunjungan Obama, beberapa ruas jalan utama ibukota sementara ditutup, lalulintas dialihkan ke rute lain. Tentu saja kemacetan semakin parah. Masyarakat banyak yang ngedumel, banyak juga yang memahami arti protokoler, apalagi bagi presiden dari negara adi daya. Sebenarnya Presiden Austria, Heinz Fischer hari juga berkunjung ke Jakarta, bahkan nanti siang akan mengikuti kuliahnya Obama di Balaiirung UI. Tetapi beritanya mengenai Fischer begitu senyap, tidak seheboh Obama. Semua stasiun TV memberitakan secara lengkap Ada yang siaran langsung, ada juga yang menyajikan program khusus membahas Obama.

Pukul 02.09, menit demi menit terus beranjak. Dalam benak tersirat, bagaimana nasib para pengungsi yang ada di Merapi, Mentawai dan Wasior. Mereka masih terluka, banyak yang depresi, teruatama karena kehilangan anggota keluarga dan kerabat, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta, kehilangan kenyamanan, dan beragam cerita duka lainnya. Bagaimanapun mereka tidak bisa tidur nyenyak, pikiran tidak tenang, badan tidak nyaman, hati gelisah, meskipun masih tersisa asa dan harapan …..

Para pengungsi Merapi telah dikunjungi Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono, begitu pula para petinggi negeri ini. Ada sedikit pencerahan dengan kedatangan kepala negara tersebut, bagaimanapun presiden atau kepala negara adalah pemimpin tertinggi bagi rakyat, juga pengayom bangsa. Apalagi kondisi sebagian rakyat sedang terpuruk, sangat memerlukan perhatian dan uluran tangan. Para pengungsi butuh bantuan sosial, ekonomi, psikologis dan beragam aspek kehidupan lainnya. Mereka butuh dipulihkan, ditempatkan kembali di rumah dan desa yang layak.

Dalam pidato sambutannya di depan Presiden SBY, Presiden Obama berjanji akan membantu korban bencana di Indonesia, termasuk korban letusan Gunung Merapi. Mungkin dalam hati kecil Obama terbersit keinginan atau semacam kata hati ingin berkunjung ke Merapi, melihat kedahsyatan erupsi Merapi, mengunjungi dan memberi semangat para pengungsi. Bisa saja larut malam ini Obama sedang bermimpi ketemu pengungsi Merapi, sambil mengucapkan “Yes We Can !”. Namun bagaimanapun, meski Obama seorang presiden, tetap saja harus tunduk pada protokoler. Obama tidak bisa pergi ke sembarang tempat, tidak bisa bertemu dengan sembarang orang. Bahkan, tamu undangan yang akan menghadiri pidatonya hanya boleh menggunakan kendaraan jenis bus. Filosofi dari semboyan favoritnya itu cukup bermakna kalo kita terapkan dalam kondisi sekarang. Ya, para pengungsi bisa bangkit, bangsa Indonesia bisa bangkit …………….

Terlepas dari pengandaian tentang Obama, yang sebagian episode kehidupannya berlangsung di Jakarta, semoga kedatangan Obama ada manfaatnya, baik bagi Bangsa Indonesia maupun sahabat Bangsa Indonesia yang selama ini posisinya dirugikan oleh beragam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. (Atep Afia)

 

Dipublikasikan juga melalui :

http://metro.kompasiana.com/2010/11/10/andai-obama-ke-merapi/

 

 

 

Posted in: Politik