Atasi Kebuntuan Menulis

Posted on 07/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Buntu. Ada jalan buntu, usus buntu, sop buntu …ehh sop buntut kalo yang itu mah. Buntu artinya tidak ada terusannya, tertutup, mempet, tidak mengalir, tidak lanjut. Seringkali kebuntutan menghinggapi beragam aspek kehidupan kita. Buntu dalam nasib, buntu dalam berusaha, buntu dalam berpikir, buntu dalam berbicara, termasuk buntu dalam menulis.

Buntu itu tidak mengenakan, di mana situasi dan kondisi dihadapkan pada keadaan mentok, nggak ada jalan, mati kutu, mati gaya, lidah kelu, pikiran kosong dan tentu saja keretas kosong. Ralat, keretas kosong mungkin jaman dulu, sekarang lebih tepatnya monitor kosong.

Ketika dihadapan kita terpampang layar monitor komputer, laptop, netbook atau jenis layar lainnya, tanpa satu hurup, kata apalagi kalimat. Layar benar-benar bleng, putih tanpa noda. Kalau kondisi demikian bertahan lama, artinya si penulis sedang buntu. Tidak ada ilham atau inspirasi. Lalu bagaimana tips mencairkan kebuntuan dalam menulis ???

Tips Pertama : Cairkan Pikiran

Ternyata sebagaimana es batu, pikiran juga bisa membeku. Bahkan kalau sudah lama tidak dicairkan, pikiran bisa seperti batu, bahkan besi. Pikiran menjadi keras, kaku, tegang. Tak heran jika muncul istilah kepala batu, maknanya adalah pikirannya yang membatu. Lalu bagaimana cara mencairkan pikiran yang kadung membatu ?

Bukan es batu, bahkan batu, besi dan baja pun bisa dicairkan, yaitu dengan pemanasan tinggi. Mencairkan pikiran yang membeku tidak perlu dengan pemanasan, cukup dengan kehangatan. Lalu di mana sumber kehangatan untuk pikiran itu ? Yang jelas sumbernya bukan dari kompor minyak tanah apalagi kompor gas dari tabung yang sering meledak itu. Sumber kehangatan pikiran ialah dari hati. Hangatkan hati, maka pikiranpun akan mencair.

Dengan demikian, pangkal utama dari tidak mengalirnya kata demi kata, kalimat demi kalimat, adalah karena hati yang dingin, tidak dinamis, statis, pasif. Sebenarnya suasana hati seperti sebuah pesawat radio, tergantung saluran mana yang digunakan, horor, kriminal, komedi, drama atau …… Ya, seperti psawat televisi juga, tinggal memilih chanel, mau sinetron, berita, olah raga, apapun ada. Pilih saluran atau chanel di hati yang menimbulkan keceriaan, kegembiraan atau keriangan. Hatipun menghangat, pikiranpun mencair.

Tips Kedua : Gunakan Pemicu Kreatif

Setiap orang itu pada dasarnya kreatif, suka hal-hal yang baru. Namun karena kurang percaya diri, perlahan tapi pasti energi kreatifnya tertimbun, munculah peniruan dan ikut-ikutan. Proses kreatif bisa dipicu. Sebagai contoh, ketika menulis dihadapkan pada kebuntuan, coba bacalah tulisan atau artikel di surat kabar, buku, web, blog atau coretan di tembok sekalipun. Nah, hal-hal tersebut bisa jadi pemicu kreatif. Dengan membaca tulisan orang, maka pikiran kita akan terinspirasi. Biarkan inspirasi mengalir, ekspresikan secara bebas, maka tulisan kita pun perlahan tapi pasti juga mulai mengalir.

Setiap penulis atau calon penulis bisa menjadikan hal-hal tertentu sebagai pemicu kreatif. Ada seorang penulis yang jika menghadapi kebuntuan dia segera memandangi langit. Terkadang langit kelam, terkadang penuh bintang. Nah, dari sanalah munculnya inspirasi, sehingga kata-kata “ahaaa…” muncul kembali, bisa juga kalimat berupa sederhana “ohh yaa..”, atau istilah Archimides “eureka …”

Terkadang hal yang dianggap orang lain aneh, justru menjadi pemicu kreatif seseorang. Ada juga seorang penulis yang muncul ide kreatifnya setelah berjalan-jalan di pantai, hutan atau sekedar naik gunung. Ada juga yang menjadikan hewan peliharaan kesayangannya sebagai pemicu kreatif. Ya, apapun bentuknya, yang penting masih dalam batas kewajaran.

Tips Ketiga : Paksakan Jemari Bergerak

Ya, menulis ujung-ujungnya adalah aktifitas jemari. Ada yang 11 jari atau 10 jari. Ketika layar monitor terpampang, jangan biarkan kebuntuan hinggap, barang sedetikpun. Cairkan pikiran, gunakan pemicu kreatif dan ujung tombaknya paksakan jemari bergerak. Tekan rangkaian hurup di keyboard, munculkan kata dan kalimat menarik. Supaya gagasan tercurah, menjelma jadi tulisan yang dengan suka-rela orang lain membacanya. Lahirkan tulisan yang positif, proaktif dan progresif, jangan tulisan yang pasif atau provokatif. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://muda.kompasiana.com/2010/11/07/tips-atasi-kebuntuan-menulis/

Posted in: Edukasi