Pemuda, Pemilu dan Presiden 2014

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Pemuda, pemula dan presiden (P3) kalau dikaji lebih lanjut, menghasilkan interaksi yang begitu menarik, terutama jika dikaitkan dengan momentum Sumpah Pemuda 1928 dan Pemulu 2014. Dari segi angka saja ada korelasi yang indah, 1928 dan 2014. Setelah angka 19 adalah 20, kelipatan dari 14 adalah 28. Ya, memang hanya sebuah kebetulan belaka, tidak ada makna khusus. Hanya hitungan sederhana dan teramat biasa. Tetapi idealnya, momentum 2014 harus ada kaitannya dengan 1928. Dengan kata lain, Presiden yang terpilih pada Pemilu 2014 adalah pemuda, setidaknya termasuk golongan muda.

Pemula ? Ya, yang tampil pada tahun 2014 di puncak pemerintahan Republik Indonesia adalah pemula atau pendatang baru. Bukan lu lagi lu lagi (L4). Generasi usia 60-70 tahunan sudahlah, saatnya menjadi pengayom bagi generasi usia 40-50 tahunan untuk tampil di barisan terdepan. Bukan hal yang mengada-ada. Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto memulai pemerintahannya pada usia 40-an. Tetapi tentu saja sebelumnya telah ditempa sedemikian rupa, sehingga ketika naik ke tumpuk kekuasaan sudah relatif matang.

Menurut Malcolm Gladwell, dalam bukunya Outliers : The Story of Success, diperlukan kerja keras, kedisiplinan yang intensif dan fokus selama 10 ribu jam untuk mencapai posisi sukses yang fenomenal. Sebagai contoh, Barack Hussein Obama, yang dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-44, terhitung mulai 20 Januari 2009, dalam usia 49 tahun. Sebelumnya telah bejerih-payah meniti karir politik di Partai Demokrat selama ber-tahun-tahun, melebihi 10 ribu jam. Ya, meskipun muda. Presiden terpilih Pemilu 2014 hendaknya telah memiliki jam terbang melebihi 10 ribu jam. Masuk katagori pemula, karena mungkin saat ini belum banyak diperbincangkan, bahkan tidak masuk katagori kuda hitam. Bangsa dan negara Indonesia memerlukan pencerahan dan penyegaran. Pemilu 2014 selayaknya terinspirasi Sumpah Pemuda 1928.

Kalangan pemuda hendaknya mulai bahu-membahu untuk memenangkan Pemilu 2014. Kuasai kursi DPR, menangkan kursi Presiden, raih kursi kabinet, bangunlah pemuda untuk bangkitnya Indonesia. Kalangan senior hendaknya mulai legowo dan lebih mempercayai kemampuan junior-nya. Cukup kiranya generasi senior berdiri di barisan paling depan, segera bersiap menyerahkan estafet kepemimpinan. Meskipun batasan usia pemuda ada yang menyatakan antara 16 – 30 tahun, atau 18 – 35 tahun, namun usia 40 tahunan masih tergolong relatif muda. Bahkan Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah pada saat usia 40 tahunan. Artinya usia 40-an sudah tergolong matang untuk mengemban tugas besar.

Untuk mensukseskan konsep P3, ada baiknya dimulai dengan pergantian pimpinan puncak partai politik (Parpol) dari kalangan senior ke junior. Terpilihnya Ketua Umum baru Partai Demokrat, yang berusia 40-an, idealnya diikuti oleh Parpol besar lainnya seperti Golkar, PDIP, PKS, PPP, PKB, PAN, Hanura dan Gerindra. Setiap Parpol tentu memiliki kader berkualitas dengan usia muda. Berikanlah kepercayaan penuh, kelak tokoh senior Parpol akan dikenang sebagai “pembimbing” generasi muda, bukan sebagai “pesaing” generasi muda. Kalau kita telaah ulang dan kilas balik sejarah perjuangan bangsa, ternyata kalangan pemudalah yang mencetuskan kebangkitan nasional, sumpah pemuda, bahkan proklamasi kemerdekaan, oleh sebab itu 2014 adalah saatnya pemuda kembali memimpin bangsa. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://politik.kompasiana.com/2010/10/29/pemuda-pemula-dan-presiden/

Posted in: Politik