Lebih Baik Berbahasa Indonesia

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Dalam suatu konferensi internasional datanglah ke Indonesia tamu kehormatan dari berbagai negara. Tibalah sambutan dari pejabat Indonesia. Idealnya yang meluncur dari mulutnya ialah Bahasa Indonesia yang indah. Apa mau dikata, justru Bahasa Inggris yang keluar. Memang cukup pasih, sehingga dipahami tamu kehormatan asal manca negara. Namun di balik peristiwa tersebut, ada sesuatu yang dipinggirkan dan di-anak-tiri-kan, yaitu Bahasa Indonesia.

Idealnya setiap orang yang datang ke Indonesia terlebih dahulu belajar Bahasa Indonesia. Setiap negara yang mengirim utusannya ke Indonesia untuk kepentingan tertentu, sepantasnya yang bisa ber-bahasa Indonesia. Rakyat Indonesia akan bangga jika pejabat atau pemimpin Indonesia ber-bahasa Indonesia di manapun berada. Sebagaimana dicontohkan oleh mantan Presiden Soeharto, dalam pertemuan tingkat internasional beliau selalu ber-bahasa Indonesia.

Momentum 28 Oktober, sebagai Hari Sumpa Pemuda, senantiasa mengingatkan pentingnya Bahasa Indonesia. Coba bayangkan kalau tidak ada Bahasa Indonesia, komunikasi antara orang Jawa dengan orang Sunda saja yang masih satu pulau akan terhambat. Kita pergi ke Jayapura harus berbahasa Papua, pergi ke Banda Aceh harus berbahasa Aceh, pergi ke tiap tempat harus berbahasa setempat. Melalui Bahasa Indonesia ratusan etnis di Kepulauan Nusantara dipersatukan. Bukan hanya itu, peran Bahasa Indonesia juga menjembatani komunikasi antar sub etnis. Di Indonesia ada ratusan etnis, nah untuk sub etnis lebih banyak lagi. Sebagai contoh, etnis Sunda meliputi beberapa sub etnis, mulai dari Priangan, Priangan Timur, Bogor, Pantura sampai Banten. Di antara sub etnis terdapat perbedaan dalam logat dan kosa kata, ada kosa kata yang di Banten dianggap pantas diucapkan, sementara di Priangan tidak pantas. Tak heran sering terjadi mis-komunikasi atau salah persepsi di antar sub-etnis. Nah, dengan Bahasa Indonesia bisa menghilangkan mis-komunikasi tersebut. Begitu pula etnis Jawa juga beragam, mulai dari sub etnis Banyumasan di bagian barat sampai sub etnis perpaduan Jawa-Madura di ujung timur. Hal yang sama juga berlaku untuk etnis-etnis lainnya, yang ternyata juga memiliki banyak varians. Dengan demikian, peran Bahasa Indonesia di dalam menjembatani antar etnis atau antar su etnis begitu nyata.

Kemampuan Bahasa Indonesia meliputi cara bertutur (lisan) dan tulisan. Sebenarnya berpikir juga menggunakan bahasa Indonesia, bagi penutut Bahasa Indonesia, kemungkinan berpikirnya juga dengan Bahasa Indonesia. Namun apakah berperasaan juga menggunakan bahasa tertentu ? Hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Jadi aktifitas menulis, berbicara, merasa, berpikir, bahkan mendengar tergantung pada kemampuan berbahasa.

Kemampuan bertutur dan menulis sebagian besar generasi muda lemah, apalagi dengan berkembangnya penggunaan perangkat teknologi seperti SMS, kebiasaan menulis surat pun perlahan pudar. Padahal dengan menulis surat, secara langsung terjadi peningkatan kemampuan menulis. Penggunaan SMS dengan kata-kata dan kalimat pendek, justru menghambat budaya menulis, terlepas dari lebih lancarnya pertukaran informasi.

Momentum 28 Oktober harus dijadikan penyadaran akan pentingnya Bahasa Indonesia. Bagaimanapin Bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan jumlah penutur lebih dari 200 juta orang, jauh melampaui Bahasa Jepang, Arab, Perancis, Spanyol atau Jerman. Mungkin hanya kalah oleh Bahasa Mandarin, Bahasa Urdu dan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa dunia. Sebagai pengakuan terhadap eksistensi Bahasa Indonesia, beberapa situs web terkemuka di dunia menggunakan fitur Bahasa Indonesia, mulai dari Google, Facebook, Wikipedia, Blogger, Yahoo, dan sebagainya. Pengelola situs web menyadari bahwa penutur Bahasa Indonesia mencapai lebih dari 200 juta jiwa, sebuah potensi yang begitu besar. Begitu pula perguruan tinggi di Australia dan beberapa negara lainnya ada yang membuka progran studi atau pusat stusi Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Jawa.

Data dan fakta yang telah diuraikan di atas, sudah semestinya menjadikan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia semakin kuat. Kita harus bangga dengan Bahasa Indonesia, terutama bagi Pemimpin Bangsa Indonesia pergunakanlah Bahasa Indonesia di manapun dan dalam acara apapun. Bagaimanapun, kita berbahasa satu, Bahasa Indonesia. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/28/yuk-berbahasia-indonesia/

Posted in: Edukasi