Kontribusi Guru Besar

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Di setiap negara tentu ada institusi yang disebut perguruan tinggi, bisa berupa universitas, sekolah tinggi atau akademi. Idealnya setiap perguruan tinggi memiliki guru besar atau profesor. Kondisi di Indonesia sangat tidak merata, ada perguruan tinggi yang memiliki ratusan guru besar, ada yang jumlah guru besarnya dalam hitungan jari, ada juga yang sama sekali tidak ada guru besarnya. Kualitas sebuah perguruan tinggi antara lain bisa dilihat dari jumlah dan keberadaan guru besarnya. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia berhasil masuk daftar 500 perguruan tinggi kelas dunia, antara lain karena kontribusi guru besarnya.

Ya, guru besar harus berkontribusi terhadap institusinya, bahkan guru besar pun wajib berkontribusi kepada bangsa dan negaranya. Menyandang status guru besar adalah amanah sebagai putra terbaik bangsa di bidangnya. Setiap penerima gelar guru besar memiliki tanggung jawab moral, setidaknya harus lebih peka di dalam mengamati sekaligus berkontrsibusi terhadap kemajuan bangsanya. Gelar guru besar bukan sekedar pencapaian angka kum 1.000, 1.100, 1.200 dan sebagainya, bukan sekedar mengoleksi beragam pencapaian unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi yang lebih penting ialah menerapkan asas manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Guru besar harus bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Kemampuan ilmu dan pengetahuannya harus teraplikasi secara tepat sasaran di beragam bidang yang ada. Sudah semestrinya guru besar pertanian se-Indonesia bersatu-padu, guyub, untuk bersama-sama memecahkan persoalan petani dan pertaniannya. Kenapa pertanian selalu terpuruk, kenapa nasib petani sulit beranjak. Begitu pula, guru besar bidang kedokteran perlu berkolaborasi, bagaimana meningkatkan mutu kesehatan masyarakat. Begitu pula guru besar politik, hukum, ekonomi, teknik, dan sebagainya.

Masa bakti guru besar di Indonesia relatif terbatas, terutama karena saat pengangkatan usianya sudah tidak muda lagi, kebanyakan di atas 55 tahun. Untuk mengurus status guru besar di Indonesia memang tidak mudah, proses penilaiannya sangat panjang, baik ketika di internal perguruan tinggi sendiri, maupun saat di Kementerian Pendidikan Nasional. Padahal banyak dosen bergelar doktor yang berusia relatif muda, bahkan ada yang 30 tahunan. Kalau seorang guru besar diangkat pada usia 30 tahunan, masa bakti ke-profesor-an-nya akan lebih panjang. Kondisi tubuh dan pikirannya masih prima, sehingga kontribusinya bagi bangsa dan negara bisa lebih optimal.

Di atas kertas kondisi negeri ini relatif baik, misalnya untuk beberapa indikator perekonomian tumbuh sekian persen, tetapi kondisi di lapangan berbicara lain, mulai dari jumlah pengangguran yang terus meningkat, jumlah orang miskin yang makin banyak, kerusakan lingkungan, korupsi, berbagai pelanggaran hukum dan HAM yang tidak pernah terselesaikan, dan sebagainya. Bisa dikatakan negeri ini sedang terpuruk. Nah, aksi dan reaksi sang guru besar sangat dinantikan, bagaimanapun Anda diberikan kemampuan yang lebih, kepintaran di atas rata-rata, tolong berikan solusi buat negeri tercinta ini . (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/26/guru-besar-dan-negeri-terpuruk/

Posted in: Edukasi