Ketika Bencana Datang Bertubi-tubi

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Bencana singgah di Indonesia secara bertubi-tubi, mulai dari banjir, tsunami sampai gunung meletus. Kemaren secara bersamaan banjir melanda kawasan Jabodetabek dan beberapa daerah lain, tsunami menghantam Kepulauan Mentawai, dan Gunung Merapi di sekitar Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga meletus, mengeluarkan material dan awan panas. Ratusan orang meninggal, puluhan ribu orang mengalami kehilangan kenyamanan hidupnya, berbondong-bondong mendatangi tempat pengungsian.

Sudahlah, yang terpenting saat ini bukan menyalahkan siapa-siapa, tetapi secara cepat dan tepat menanggulangi berbagai dampak bencana tersebut. Bencana menimbulkan derita dan trauma, bencana juga berdampak pada kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal dan tempat usaha. Dampak sosial, ekonomi dan psikologis yang diderita korban sangat luar biasa. Untuk itu diperlukan terapi secara ekonomis, medis dan psikologis. Dibutuhkan langkah dan tindakan yang sesegera mungkin. Pemerintah dengan masyarakat perlu bahu-membahu menangani berbagai persoalan yang muncul, mulai dari menyediakan tempat pengungsian yang memadai, bantuan pangan dan obat-obatan, pemulihan trauma, serta penanganan pasca bencana seperti relokasi penduduk.

Kawasan sekitar Gunung Merapi dalam radius beberapa kilometer, memang sudah tidak layak huni. Gunung Merapi dengan ketinggian 2.968 m di atas permukaan laut, yang berlokasi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY merupakan gunung api teraktif. Gunung tersebut rajin melontarkan awan panas, material pijar, hujan abu, lava bahkan gas beracun. Gunung merapa mengalami letusan besar setiap 10-15 tahun sekali, dan letusan kecil setiap 2-3 tahun sekali. Memperhatikan fakta tersebut, sudah selayaknya lereng merapi tidak lagi dihuni penduduk. Solusinya antara lain melalui bedol desa, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu menyediakan hunian baru di tempat yang lebih aman.

Begitu pula menyangkut banjir di Jabodetabek. Banjir berulang melanda beberapa kawasan perumahan, seperti perumahan-perumahan yang berdampingan dengan Kali Pesanggrahan. Perumahan Ciledug Indah I dan II merupakan kawasan paling rawan banjir, karena persih berada di sisi Kali Pesanggrahan, di mana seringkali permukaan air kali lebih tinggi dari kawasan perumahan. Solusi untuk kawasan ini, bisa saja dibangun tembok atau dam yang lebih tinggi dan lebih kuat sepanjang bantaran sungai. Cara lainnya ialah dengan relokasi penduduk ke pemukiman lain, dengan cara “bedol perumahan”. Lokasi yang lama bisa saja dijadikan danau buatan, yang berfungsi menampung luapan Kali Pesanggrahan. Tetapi gagasan tersebut, mungkin hanya di atas kertas, sebab biaya “ganti untung” buat warga perumahan, sudah tentu tidak ada. Dalam hal ini Pemkot Tangerang tidak memiliki anggarannya.

Introspeksi dan rehabilitasi, itulah dua kata kunci yang harus dilaksanakan oleh segenap komponen bangsa. Introspeksi diri sangat penting, tentu ada sebab kenapa Tuhan pencipta alam semesta menurunkan bencana secara bertubi-tubi di negeri tercinta ini. Bisa disikapi sebagai ujian, cobaan atau azab, sebagaimana pernah dijatuhkan terhadap umat-umat terdahulu. Introspeksi terhadap sikap dan perilaku selama ini, bagaimana memperlakukan alam sekitar, apakah cukup santun atau arogan. Banjir yang terjadi bukan sekedar fenomena alam, cuaca ekstrim misalnya, tetapi juga akibat ulah kita semua yang secara kolektif berkontribusi terhadap kerusakan hutan dan pemanasan global.

Rehabilitasi juga sangat penting. Bagaimana upaya untuk mengembalikan atau mendekati kenyamanan yang sebelumnya dirasakan korban bencana. Hidup tentram, nyaman dan berkecukupan, merupakan impian semua anggota masyarakat. Ketika bencana datang secara tiba-tiba, semuanya hanyut, prak-poranda dan lenyap. Sudah semestinya masyarakat lainnya bahu-membahu menolong korban bencana seoptimal mungkin, bagaimanapun kita adalah masih merupakan masyakat yang selalu ber-gotong-royong dan selalu tolong-menolong. Peran pemerintah harus lebih cepat tanggap, bagaimanapun menolong korban bencana lebih cepat lebih baik. Lanjutkan berbuat baik untuk sesama anak bangsa. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/27/indonesia-menuai-bencana/

Posted in: Introspeksi