Kampus Perlu Dibenahi

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Ada jutaan mahasiswa di Indonesia, tersebar di ribuan perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN dan PTS) yang berlokasi di ratusan kota. Mahasiswa adalah harapan bangsa, kelak sebagian mereka akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa, baik di pusat atau daerah. Mahasiswa adalah sekelompok pemuda yang beruntung, karena bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Padahal lebih dari 80 persen pemuda (usia 18 – 24 tahun) lainnya, tidak bisa lanjut studi, dengan beragam alasan, terutama masalah ekonomi. Biaya mentok, ya sudah selepas SMA atau SMK cari kerja, kebanyakan kerja serabutan atau dibayar di bawah UMR, sebagian besar malah nganggur.

Salah satu rapor buruk pengelola republik ini adalah kurang mampu menciptakan peluang kerja dan kurang kreatif mengembangkan iklim usaha. Tak heran jika fenomena penangguran dan kemiskinan, bagai gunung es, yang bisa meleleh kapan saja. Masih untung ada beberapa negara jiran dan negara sahabat berbaik hati menampung pencari kerja kita, walah sebagian kecil diperlakukan dengan kurang manusiawi.

Mahsiswa masuk PTN atau PTS juga dengan harapan setelah lulus memperoleh pekerjaan yang lebih layak, atau membuka usaha dengan skala yang lebih besar. Namun obsesi itu sebagian besar akan mentok juga, lagi-lagi karena kesempatan kerja dan peluang usaha yang tidak dikembangkan secara kondusif. Diperkirakan tahun ini saja, lebih dari 1 juta sarjana bakal nganggur.

Sekali lagi fenomena gunung es makin menguat, bahkan untuk tingkat intelektual yang lebih tinggi. Bayangkan investasi sumberdaya manusia (SDM) yang begitu mahal, tidak terakomodasi dengan baik. Yang lebih mengenaskan adalah nasib para orang tua, yang sebagian besar berjibaku membiayai studi anaknya untuk menjadi sarjana. Kita masih ingat dalam serial “Si Doel Anak Sekolahan”, bagaimana jerih payahnya Babeh Sabeni untuk menjadikan Si Doel sebagai “Tukang Insinyur”. Hektaran tanahnya dijual untuk menutupi biaya kuliah, dengan harapan Si Doel bisa kerja kantoran, seperti “orang-orang”. Namun apa mau di kata, sampai akhir hayatnya, Babeh Sabeni tidak sempat menyaksikan “Tukang Insinyur” kerja kantoran seperti harapannya.

Banyak Babeh Sabeni – Babeh Sabeni lainnya yang bernasib sama. Kenyataannya, sebagian orang tua mahasiswa berada dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Menyekolahkan anak ke PTN atau PTS dengan menguatkan diri. Harapannya, nasib anaknya bisa lebih baik dari nasib dirinya. Gelar sarjana masih mendapat tempat begitu terhormat di tengah masyarakat. Oleh sebab itu pembukaan program studi baru, bahkan universitas baru makin marak setiap tahunnya. Meskipun di sisi lainnya tak sedikit program studi yang terpaksa ditutup karena tidak ada peminat.

Erat sekali keterkaitan antara pengelolaan pendidikan, peluang kerja dan usaha, dan peran pemerintah. Pengelola pendidikan harus benar-benar menyadari, bahwa hal terpenting yang harus dimiliki peserta didiknya adalah kemandirian, kemampuan kerja dan kemampuan usaha. Peserta didik jangan hanya dijadikan “perpustakaan berjalan” atau “hardisk tempat penympanan file”. Hapalkan ini, hapalkan itu, baca ini, baca itu, tanpa diberikan motivasi mengenai esensi kehidupan yang berkelanjutan dan berkemapanan. Kebanyakan lembaga pendidikan (dasar, menengah, tinggi) hanya menjadi elemen transmisi ilmu dan pengetahuan, belum bersikap sebagai agen transformasi dan transmotivasi. Begitu pula peran pemerintah dalam menciptakan link and match antara pendidikan dengan lapangan kerja, masih jalan di tempat. Tidak ada kebijakan yang holistik dan komprehenshif, hanya keinginan berdasarkan selera siapa yang berkuasa, sehingga muncul istilah “ganti menteri ganti kebijakan”.

Pendidikan tinggi adalah tempat menyemai “benih unggul”, di mana setelah tumbuh dan berkembang, benih tersebut akan menjelma jadi sumberdaya manusia yang berkarakter dan unggul. Indonesia masa depan harus lebih baik dari sekarang, menjadi negara yang diperhitungkan bukan hanya menyangkut kuantitatif saja, tetapi juga meliputi kualitatif. Menjadi bangsa yang berkualitas ? Ya dimulai dengan pembenahan kampus-kampus. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/15/berawal-dari-pembenahan-kampus/

Posted in: Edukasi