Indonesia Berdaya

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Adalah Jim O’Neill, Kepala Divisi Ekonomi Goldman Sachs, Amerika Serikat, yang pada tahun 2001 merilis akronim BRIC. BRIC kepanjangan dari Brazil, Rusia, india dan Cina, empat negara berkembang terbesar yang pengaruhnya sangat dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. BRIC diprediksi akan menjadi empat besar dalam perekonomian dunia tahun 2050. Persoalannya kenapa Indonesia tidak termasuk BRIC, dan kalau masuk akronimnya menjadi BRICI. Hal itu akan mengemuka dalam Mandiri Economic Forum, tanggal 2 November 2010 mendatang, yang mengambil tema “Indonesia: The Next “I” in BRICI ?”

Terlepas dari beragam indikator perekonomian, sudah selayaknya Indonesia sejajar dengan BRIC. Dilihat dari aspek jumlah penduduk, yang mencapai 240 juta jiwa, Indonesia nomor empat di dunia. Begitu pula dari aspek luas wilayah, dengan lebih dari 5 juta km2 daratan dan lautan, Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia. Dari aspek rakyat dan wilayah Indonesia tergolong negara besar, namun dari aspek “pengelola” rakyat dan wilayah, yang notabene adalah pemerintah, Indonesia belum banyak diperhitungkan.

Dari aspek pemerintahan, berdasarkan sejarahnya, Indonesia pernah tercatat sebagai salah satu negara besar dan kuat. Pada era Soekarno sebagai presiden, walaupun masih belia, nama Indonesia begitu mencuat. Kepiawaian dan kapabilitas Soekarno begitu diperhitungkan, baik di forum PBB maupun di tingkat Asia Afrika. Begitu pula pada era Seharto, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari empat macan Asia. Saat itu nama Indonesia bisa dikatakan “menggetarkan” beberapa negara di sekitarnya. Tidak seperti sekarang, yang seringkali mengalami “pelecehan” negara tetangga paling dekat.

Mengacu pada uraian di atas, ternyata faktor kunci menuju Indonesia yang besar dan kuat adalah munculnya pemimpin bangsa, pemimpin negara atau presiden yang berani, kuat, kreatif dan mendunia. Bukan presiden yang “terlalu” banyak pertimbangan dan kebanyakan nge-rem. Ya, dalam sebuah mobil atau sepeda motor, fungsi rem itu sangat vital, merupakan komponen yang bisa menghindarkan kendaraan dari kecelakaan. Namun jika terlalu sering nge-rem, kendaraan tidak bisa berlari kencang dan tempat yang dituju sulit tercapai. Pemimpin bangsa harus sering-sering tancap gas, tentu saja dengan pertimbangan yang matang, tetapi jangan terlalu matang, sebab peluang akan lewat begitu saja.

Indonesia tentu merindukan sosok seperti Mahmoud Ahmadinejad dan Hugo Chavez. Pemimpin rakyat Iran dan Venezuela yang bersahabat dan saat ini begitu populer dengan keberaniannya yang “spektakuler”. Ahmadinejad dan Chavez berkolaborasi untuk menentang imprealisme Amerika Serikat dan mengurangi dominasi barat. Mengamati sepak terjang keduanya kita jadi teringat Soekarno, yang pada eranya begitu menggetarkan dunia. Sosok yang demikian, tentu akan membangkitkan nasionalisme, menjadikan rakyat, pemerintahan dan negaranya makin percaya diri. Mungkin untuk menggambarkannya ungkapan-ungkapan gaya posting anak muda di Twitter atau Facebook akan bermunculan, seperti “Gw bangga abiz man !!!”, “Top bgt coy”, “Mantabb”, dan sebagainya. Nama dan wajahnya akan terukir di baliho, spanduk, t-shirt, surat kabar, web, yang menyiratkan kebanggan rakyat.

Ya, 2014, semoga kita memiliki pemimpin yang “bikin bangga”, seorang presiden yang mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat Indonesia, memasukan Indonesia ke dalam BRICI, dan menjadikan Indonesia besar dan kuat. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://politik.kompasiana.com/2010/10/23/menuju-indonesia-yang-besar-dan-kuat/

Posted in: Politik