Demo, Batu dan Peluru

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Penggunaan peluru dalam mengendalikan aksi demontrasi terulang kembali. Kaki seorang mahasiswa Universitas Bung Karno terkena peluru tersebut, sehingga harus dirawat di rumah sakit. Aksi demonstrasi dalam rangka memperingati setahun SBY-Budiono berkuasa, yang berlangsung di Depan Istana Negara, Jakarta, memang relatif terkendali. Namun menyisakan dampak peluru. Sekali lagi kenapa peluru harus “bicara” dalam aksi demontrasi.

Kalau dirunut saat peristiwa demonstrasi terjadi, ternyata peluru “menyahut” karena batu juga “bicara”. Ada demonstran yang melempar batu dan benda-benda keras lainnya, selain dibalas dengan tembakan peluru hampa, ternyata peluru tajam pun ada yang turut serta.

Aksi demonstrasi adalah hal yang biasa dalam kehidupan berdemokrasi. Menyampaikan aspirasi, kepentingan dan tuntutan kepada pihak yang berkuasa melalui aksi jalanan, dengan melibatkan jumlah masa yang banyak. Dalam aksi demonstrasi tentu saja harus ada pengawasan, pengaturan dan pengendalian, supaya terbebas dari provokator dan anarkhi. Aparat keamanan berjaga dengan penuh kesigapan, dilengkapi “senjata” standar seperti tameng, pentungan, water canon, dan sebagainya. Namun ternyata ada pistol yang tidak saja ditempakan ke atas, namun di arahkan ke demonstran. Sasarannya jelas bukan bagian tubuh mematikan, tetapi sekedar melumpuhkan. Tetapi yang namanya peluru tajam, ya tetap saja membuat bagian tubuh yang terkena luka dan berdarah. Jelas menembakan pistol ke arah demonstran adalah suatu penyimpangan, pelakunya harus diproses lebih lanjut.

Di sisi lainnya aksi demonstran melemparkan batu dan benda keras lainnya sangat membahayakan keselamatan aparat keamanan. Bagaimanapun, polisi adalah aparat yang berkewajiban memelihara keamanan dan ketertiban di negara ini. Bisa saja Pak Polisi adalah ayah, kakak, paman sang demonstran. Demonstran seperti mahasiswa adalah anak kandung rakyat, begitu pula polisi. Dua-duanya merupakan elemen rakyat yang posisinya sangat penting. Sebenarnya sangat tidak layak untuk saling melukai, seharusnya saling melindungi. Alangkah indahnya jika dalam aksi demonstrasi mahasiswa dan polisi saling menghargai peran masing-masing, saling bertoleransi, karena kedua pihak mengedepankan suara hati.

Di sisi lainnya, sebenarnya rakyat memiliki wakil yang resmi. Rakyat telah memberikan mandatnya kepada orang-orang tertentu yang duduk di kursi parlemen. Mereka yang duduk di DPR mendapat amanah dari rakyat, untuk memperjuangkan kepentingan dan nasib rakyat. Makin banyak aksi demonstrasi di jalanan, menunjukkan saluran aspirasi rakyat ke parlemen makin tersumbat. Sumbatannya terutama karena sifat lupa-lupa ingat dan lupa diri para wakil rakyat tersebut. Kenapa harus ada parlemen jalanan kalau parlemen “beneran” berfungsi secara optimal. Tak dapat dipungkiri, aksi wakil rakyat seringkali nyeleneh, terkesan mengada-ada, sampai lebay. Contoh kasus rencana pembangunan gedung dewan yang baru dengan aneka kemewahannya, termasuk fasilitas kolam renang. Ada lagi berita tentang rencana kunjungan anggota dewan ke Yunani, hanya sekedar studi banding cara-cara bersidang. Sebuah gagasan yang tidak kreatif, tidak produktif, bahkan terkesan “primitif”, terlalu lebay.

Seandainya wakil rakyat di parlemen bekerja dengan profesional dan penuh kesungguhan, maka sudah bisa diduga, aksi-aksi demonstrasi atau parlemen jalanan makin jarang terjadi, serta peluru dan batu pun tidak lagi “bicara”. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://politik.kompasiana.com/2010/10/21/ketika-peluru-dan-batu-bicara/

Posted in: Politik