Awas “Dibius” Facebook !!!

Posted on 03/11/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Efek bius artinya efek yang membuat diri seseorang tidak sadar, sebagaimana obat bius yang digunakan dalam praktek medis, misalnya saat mau dioperasi. Ya, situs jejaring sosial Facebook atau yang lebih keren dengan sebutan FB, memiliki efek bius yang luar biasa. Bisa menyebabkan seseorang terbang dari dunia nyata, masuk, hanyut dan tenggelam di dunia maya.

Puluhan juta orang Indonesia adalah pengguna FB yang aktif. Bahkan, sebagian di antaranya begitu percaya sama FB, sehingga hampir semua data dan foto dirinya diupload dan ditampilkan di FB. Amankah? Berbahayakah? Jelas kurang aman, data itu bisa saja bocor ke pihak lain. Lantas, bagaimana kalau data itu dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak baik, bahkan berbahaya. Beberapa contoh kasus hilangnya remaja puteri, adalah karena pemanfaatan data oleh kalangan yang bersikap tidak baik, bahkan menjurus kriminal.

Tak dapat dipungkiri, FB memang bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi berniali positif, seperti untuk menjalin silaturahim, membangun organisasi, dan mengembangkan usaha. Sisi lainnya bernilai negatif, mulai dari terbukanya peluang perselingkuhan, pemerasan dan penculikan. Banyak orang yang memperoleh pekerjaan yang baik karena adanya interaksi di FB. Tak sedikit orang yang bertemu kawan lamanya, yang telah terpisah puluhan tahun.

Adanya FB menyebabkan acara reuni semakin ramai, mulai dari reuni TK sampai kampus. Ada juga reuni teman se kampung atau teman seprofesi. Begitu pula bagi yang menggeluti bisnis, FB merupakan sarana yang murah meriah. FB memungkinkan anggotanya untuk majang foto-foto barang dagangannya, mulai dari pakaian, parfum, sepatu, dan sebagainya. Melalui fasilitas chat, transaksi bisnis bisa mudah dilakukan. Namun, sisi negatifnya tak kalah hebatnya. Mulai dari keretakan dalam sebuah rumah tangga, penipuan berkedok bisnis, sampai kasus penculikan yang makin merebak.

Coba buka akun FB Anda selepas jam 00.00, ternyata masih banyak yang online. Kalau dilihat statusnya, ternyata bukan hanya yang lajang, bahkan yang sudah menikah pun ternyata banyak yang online. Beberapa di antaranya, mungkin sudah online ber-jam-jam. Persoalannya, ketika seseorang tenggelam di dunia maya, bagaimana dengan dunia nyatanya. Ketika seorang istri manteng terus di FB, entah sedang chat dengan teman lamanya atau tetangga sebelah rumahnya, namun bagaimana pengabaian terhadap suami dan anak-anaknya. Bisa saja, malah suaminya juga asyik sendiri di FB, begitu pula anak-anak-nya. Masing-masing larut dalam dunianya sendiri, dengan temannya yang berasal dari tempat antah berantah. Keharmonisan dan komunikasi dalam rumah tangga pun berasa hambar, begitu dingin.

Jelas FB menimbulkan efek bius. Bagi yang sudah kecanduan upaya penyembuhannya relatif sulit. Ternyata makin banyak orang yang tingkat ketergantungannya pada FB makin tinggi. Sehari tidak FB-an berasa pusing dan ada sesuatu yang hilang. Tak heran jika ada sementara pihak yang menyatakan FB haram. Mungkin karena efek bius-nya yang luar biasa. Bisa menyebabkan seseorang kurang peduli dengan dirinya, keluarganya, temannya, bahkan dengan Tuhannya. Hal ini kalau sudah kecanduan kronis. Terlibat dalam FB memang asyik-asyik saja, asalkan disikapi dengan bijak, berbatas waktu, dan keperluannya jelas. Selain itu perlu berhati-hati dalam mengekspos data diri, mulai dari nama, alamat, no HP, e-mail, foto diri dan status. Kalau bisa, hanya untuk kalangan yang benar-benar dikenali. Bagaimanapun, selain penuh kejujuran dan keterbukaan, di FB pun penuh kepalsuan dan kebohongan. Ada status palsu, ada yang mengaku a padahal b, dan beragam penyimpangan lainnya. Yang terpenting, manfaatkan FB untuk pengembangan dan kebaikan diri. (Atep Afia)

Dipublikasikan juga melalui :

http://media.kompasiana.com/group/mainstream-media/2010/11/01/efek-bius-facebook/

Posted in: Humaniora