Mata Hati Kata Hati

Posted on 03/09/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Manusia menjalani kehidupan dilengkapi dengan berbagai organ, satu di antaranya adalah hati. Hati atau qolbu merupakan pelita kehidupan, yang menuntun setiap manusia kepada cahaya. Persoalannya sebagian manusia mengalami disfungsi hati. Hatinya buta, hatinya tuli, bahkan hatinya mati, sehingga langkah demi langkah dijalani dalam kegelapan. Hati memiliki mata, sehingga memungkinkan untuk melihat hakikat atau esensi kehidupan. Dengan mata hati pula manusia bisa ‘melihat’ kekuasaan Tuhan. Hati bisa berkata-kata. Kata hati adalah kata-kata yang keluar dari hati, biasanya jernih memuat tentang esensi kehidupan.

Esensi kehidupan adalah kehidupan yang sesungguhnya sebagaimana yang Tuhan rencanakan. Tidak ada daya dan upaya, kecuali atas pertolongan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Tidak semata-mata manusia dan jin diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, esensi kehidupan itu ialah ibadah kepada Allah dan pertolongan Allah. Secuil pun manusia itu tak ada daya, tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sebagai mahluk manusia hanya bergantung kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Namun hal tersebut hanya dapat dilihat oleh mata hati, sehingga kata hati sanggup menyampaikan pengakuan hati, bahwa sesungguhnya hidup manusia hanyalah dari, oleh dan untuk Allah.

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubahnya sendiri. Dengan demikian, manusia perlu mengusahakan upaya dalam kehidupannya. Semakin serius upaya yang ditempuh, maka perubahan nasib dengan sendirinya makin berpeluang. Nasib itu berpangkal dari cara dan kebiasaan berpikir. Kalau seseorang terbiasa berpikir positif, maka akan melahirkan sikap positif. Kemudian dari sikap positifnya itu akan muncul kebiasaan positif, yang lantas berkembang menjadi karakter positif. Nah, dari karakter positif inilah akan muncul nasib positif, nasib yang baik.

Berhati-hatilah dalam berpikir, ternyata pikiran mempengaruhi nasib. Sebenarnya ada yang lebih penting dari sekedar berpikir positif, yaitu berperasaan positif. Orang yang berpikir positif belum tentu berperasaan positif. Sebaliknya, orang yang berperasaan positif, sudah tentu akan berpikir positif. Berpikir positif adalah kerja otak, sedangkan berperasaan positif adalah kerja hati. Dengan demikian, berperasaan positif ialah bagaimana menggunakan mata hati dan kata hati hanyalah dibatasi pada hal-hal yang positif. Enyahkan semua yang negatif, jangan biarkan mendekati hati.

Hati itu begitu sensitif, begitu peka, mudah terpengaruh, gampang terlarut. Beragam informasi yang ditangkap melalui panca indra, dengan secepat kilat bisa singgah dihati, dan hatipun menanggapinya. Oleh sebab itu diperlukan filter hati, supaya informasi yang negative bisa ditolak secara tegas. Filter hati itu ialah mata hati yang jernih dan kata hati yang baik. Dari melihatnya mata terhadap sesuatu, maka gambarnya akan ditangkap hati, disimpan, diproses, sehingga munculah reaksi hati. Jika gambarnya buruk, diproses lalu dienyahkan, maka reaksi hati menjadi netral. Sebaliknya, kalau gambar buruk tersebut dicerna hati, bahkan disimpan hati, maka akan muncul reaksi hati yang negatif. Sedangkan, kalau yang dilihat mata itu gambar baik, maka setelah dicerna akan muncul reaksi hati yang positif. Jagalah hati, jangan kau nodai. Memang hati itu begitu mudah dinodai dan dikotori, sehingga mata hati dan kata hati menjadi buram, tidak jernih. (Atep Afia).

Posted in: Introspeksi