Antara Pangan Organik dan Transgenik

Posted on 10/05/2010

1


Oleh : Atep Afia Hidayat –

 

Pendahuluan

 

BERAS merupakan bahan pangan utama bagi penduduk Indonesia, dengan tingkat konsumsi perkapita mencapai 130 kg. Artinya, setiap penduduk Indonesia mengonsumsi beras rata-rata 361 gram per hari. Kalau jumlah penduduk saat ini sekitar 225 juta, berarti jumlah beras yang harus tersedia mencapai 81.225.000.000 gram atau 81,23 juta kg per hari. Dalam setahun diperlukan 29.648.950.000 kg atau 29,649 juta ton beras ! Oleh sebab itu impor beras sulit dihindari, meskipun masih bersifat pro dan kontra.

Dari angka-angka itu saja menjadi lebih dipahami, mengapa muncul istilah “ketahanan pangan”, yang sangat berpengaruh pada “ketahanan nasional”. Dapat diartikan, bahwa situasi per-beras-an bisa menggoyahkan ketahanan negara, bisa “mencoreng muka” pemerintah, bisa menurunkan “citra bangsa” di dunia internasional.

Begitu strategisnya posisi sosial, politik dan ekonomi beras, yang mengherankan kenapa posisi produsen beras, alias petani, sering terlupakan. Banyak hal yang memperkuat “statement” itu, misalnya HU Galamedia, edisi 28 Agustus 2000, menurunkan berita utama: “Bulog Keluarkan Kebijakan untuk Tak Membeli Gabah Petani, Harga Gabah Anjlok”; “Hak-hak Petani Dilecehkan”.

Petani memang sering “pusing tujuh keliling”, selain harga gabah anjlok, pestisida palsu, pupuk mahal, kelangkaan benih, dan tak lama lagi akan dipusingkan oleh persoalan mutu beras, apakah berasnya mengandung pestisida, apakah terkontaminasi logam berat, apakah menggunakan benih transgenik.

Pada sisi lainnya, konsumen juga akan menjadi galau terkena imbas isu-isu seputar beras yang mengandung karbamat, organokhlorin, triazin, urasil dan pestisida lainnya; Mengandung logam tembaga (Cu), seng (Zn), timah (Pb), cadmium (Cd), krom (Cr), kobalt (Co), atau nikel (Ni), terutama beras yang berasal dari pesawahan yang berdekatan dengan kawasan industri; Atau beras yang mengandung gen dari virus dan bakteri tertentu.

Saat ini telah beredar padi Bt yang memiliki ketahanan terhadap hama penggerek batang. Padi Bt dibuat dengan cara penyisipan (insert) gen dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis. Bakteri itu memproduksi protein kristal yang bersifat toksik (racun) pada usus serangga (hama).

Ternyata pada tanaman padi, gen yang diekspresikan oleh gen Bt menyebar tidak hanya di batang, tapi juga di akar tanaman dan serbuk sari, sehingga berpeluang sampai di bulir. Dengan begitu, dengan cara tertentu para petani akan segera dirayu untuk menanam padi Bt, penanamannya pun akan makin meluas.

Beras transgenik akan segera beradar, atau dengan diam-diam mungkin sudah ada di pasar, bisa juga sudah berada dalam sistem pencernaan sebagian masyarkat. Yang menjadi persoalan, apakah ada efek sampnig dari penggunaan beras transgenik, amankah mengkonsumsi beras yang telah disisipi gen dari bakteri, tidak tertutup kemungkinan bersifat racun atau alergi?

 

 

Waspada Pangan Transgenik

UPAYA meningkatkan produksi pangan terus dipacu, berbagai teknologi mutakhir diterapkan, sehingga beberapa negara berstatus “kelebihan bahan pangan”. Sementara di bagian dunia lainnya, masih banyak penduduk yang sulit memenuhi kebutuhan pangannya. Secara global, produksi pangan memang relatif mencukupi kebutuhan seluruh penduduk planet bumi, namun yang menjadi persoalan, menyangkut distribusi dan daya beli.

Amartya Sen, seorang pemenang Nobel bidang ekonomi tahun 1999, dalam bukunya Development as Freedom, antara lain menyatakan, “kelaparan justru terjadi pada saat surplus pangan dunia dicapai”. Untuk lingkup Indonesia kasus itupun terjadi, banyak desa-desa yang mencapai posisi swasembada beras, di bagian wilayah lainnya ternyata banyak desa yang rawan pangan hingga sebagian penduduknya menderita busung lapar.

Amerika Serikat sudah sejak lama berstatus sebagai negara swasembada pangan, sehingga kelebihan pangannya harus diekspor ke negara lain. Namun ternyata, sebagian pangan yang dihasilkannya bersifat transgenik. Negara-negara Eropa Barat dan Jepang dengan tegas menolak pangan transgenik, Amerikat Serikat pun tidak memaksakan ekspor bahan pangannya, namun melalui diplomasi tertentu maka sasaran pun diarahkan ke negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia.

Bahkan, senator Christoper S Bond dari Negara Bagian Missouri, mengaku pernah bertemu dengan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid, misinya kemungkinan untuk memuluskan ekspor hasil pertanian Amerika Serikat, termasuk bahan pangan transgenik (Kompas, 18 Agustus 2000).

Isu bahan pangan transgenik terus bergulir, lantas tiga organisasi nonpemerintah (Ornop) Indonesia menunutut pemerintah, khususnya Departemen Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup untuk lebih transparan kepada publik dalam menginformasikan perkembangan penelitian dan peredaran tanaman, atau produk transgenik di Indonesia (Kompas, 30 Agustus 2000).

Ornop yang terdiri dari Pesticide Action Network (PAN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo), menyeru pemerintah untuk mengimplementasikan Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, terutama Pasal 35 yang berkaitan dengan pelabelan pangan rekayasa genetika.

Kabinet baru diimbau pula agar lebih selektif dan berhati-hati dalam menyusun kebijakan impor komoditi bahan pokok, atau menjalin kerjasama dengan perusahaan multinasional dalam pengadaan produk. Atau komoditi pertanian asing yang diduga mengandung bahan-bahan rekayasa genetika, di antaranya jagung, kedele dan beras. Sedang para pakar diminta untuk memiliki sikap akademik yang jujur tentang pangan hasil rekayasa genetika bagi konsumen Indonesia.

 

 

Memilih Pangan Organik

SEBAGIAN besar masyarakat memang belum menyadari dan kurang memahami persoalan bahan pangan transgenik. Sementara sikap pemerintah dan para pakar pun belum jelas. Sebagian kecil masyarakat, terutama yang menerapkan pola hidup back to nature (kembali ke alam), kini cenderung memilih bahan pangan organik, mulai dari beras organik, sayur organik sampai buah organik.

Sebenarnya pola hidup yang demikian sudah meluas di kalangan penduduk di negara-negara maju; Produk pertanian Indonesia misalnya, sangat sulit menembus Australia, bahkan banyak yang dikembalikan. Alasan utamanya standar kualitas tidak terpenuhi, seperti produk bebas pestisida, atau paling tidak residunya di bawah BBM (batas residu minimal), pengemasan tidak sesuai prosedur atau mengandung patogen. Banyak juga konsumen yang menginginkan bahan pangan yang bebas pupuk kimia.

Tanggapan masyarakat terhadap pertanian organik terus menguat. Saat ini telah berdiri beberapa lembaga atau perkumpulan yang mengembangkan pertanian organik. Antara lain Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) yang berpusat di Universitas Brawijaya, Malang; Organik Nature Farming Training Centre (Pusat Pelatihan Pertanian Terpadu dan Akrab Lingkungan – PPPTAL); Institut Pengembangan Sumberdaya Alam (IPSA). Beragam hasil kajian dan percobaan pertanian organik telah banyak yang diaplikasikan petani. Misalnya untuk menghasilkan beras organik, petani memilih varietas lokal seperti Sri Kuning, Sri Ayu, Galur, Lestari dan Mentik.

Keberadaan varietas padi lokal makin terdesak, bahkan banyak yang mengalami kepunahan. Program Bimas dengan varietas unggul tahan werengnya, telah menjadikan petani lupa dengan varietas lokal, karena cenderung “dipaksa” untuk menanam varietas hasil rekayasa genetika yang dikenal memiliki tingkat produksi yang tinggi dan tahan terhadap serangan hama.

Namun ternyata varietas lokal memiliki keunggulan tertentu yang tidak dimiliki varietas hasil rekayasa, misalnya menyangkut rasa dan aroma. Menurut Dr.Ir.Mulyadi Raharja, pengajar senior di Fakultas Pertanian Unpad, beras yang dikonsumsi di lingkungan Istana Presiden di Bogor, sampai beberapa waktu yang lalu, hanya berasal dari varietas lokal yang hanya tumbuh baik di satu kecamatan di Kab. Cianjur, yaitu varietas Baok.

Dalam memproduksi beras organik, pupuk kimia seperti urea, ZA, TSP, SP 36, dan KCI digantikan dengan pupuk organik seperti pupuk kandang, kompos, bokashi, dan sebagainya. Sedang pestisida dengan bahan aktif senyawa kimia tertentu, digantikan dengan pestisida nabati (terbuat dari tumbuhan tertentu) atau musuh alami (dicarikan serangga yang memangsa hama).

Dampak samping penggunaan pupuk kimia dan pestisida memang sangat kompleks, selain berpengaruh terhadap fisiologi tanaman dan hasil panen, juga merusak lingkungan. Pemakaian urea yang terus- menerus misalnya dapat merusak tanah, mulai dari kesamaan yang meningkat sampai ketidakseimbangan mikroorbiologi tanah.

Penggunaan insektisida selain bisa menjadi residu yang terkandung dalam hasil panen, juga mematikan serangga yang bermanfaat untuk penyerbukan (serangga non hama), menyebabkan hama menjadi resisten (tahan), dan yang terpenting menimbulkan keracunan bagi manusia. Sebagai contoh, insektisida yang termasuk golongan DDT, aldrin, dieldrin, endrin dan khlordin, berpengaruh terhadap sistem saraf pusat.

Hasil percobaan dengan menggunakan dosis yang tinggi pada hewan percobaan dapat menyebabkan kerusakan organ hati dan ginjal. Racun yang mengenai manusia akan tersimpan dalam jaringan lemak tidak bersifat aktif, karena itu pengaruhnya tidak tampak dengan cepat. Masuk ke tubuh manusia melalui pernafasan, mulut dan kulit. Gejala keracunan berupa badan gemetar, mual dan diare. Hal itu memperkuat alasan bagi sebagian masyarakat untuk beralih ke pola konsumsi bahan pangan organik.

 

 

Penutup

KEMBALI ke alam (back to nature) dan keamanan pangan (food safety), menjadi alasan bagi sebagian orang untuk lebih memilih beras organik dibanding beras yang penuh dengan sentuhan teknologi, begitu pula untuk bahan pangan lainnya. Selama ini beras yang dikonsumsi sangat “akrab” dengan pemakaian produk kimia. Tak lama lagi beras pun akan “mesra” dengan aplikasi bioteknologi.

Selain “beras Bt” (mengandung gen dari bakteri tanah Bacillus thuringinsis ), tak lama lagi muncul “beras emas”, hasil karya para peniliti dari Swiss dan Rockefeller Foundation di New York. Cara melakukan rekayasa genetika pada tanaman padi yang disisipi gen penghasil Pro Vitamin A, sehingga dihasilkan beras emas. Yakni melalui pemanfaatan bakteri Erwina uredovora dan Agrobacterium tumefaciens. Sisi positif beras emas diharapkan dapat mengatasi defisiensi vitamin A, yang mengancam kebutaan pada sekitar 400 juta penduduk di negara sedang berkembang dan negara terbelakang.

Memang ada sisi positif dan negatif dalam penemuan dan aplikasi teknologi. Antagonisme tersebut menggiring masyarakat pada dua kutub, skeptis dan optimis. Bagaimana jadinya jika pestisida yang memang senyawa kimia beracun itu, tidak pernah ditemukan dan dikembangkan dalam praktek pertanian. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1800-an sejuta orang di Irlandia meninggal dunia. Hal itu karena terjadi kegagalan panen kentang, makanan pokok penduduk Irlandia, karena serangan suatu penyakit. Hal serupa terjadi di berbagai bagian bumi.

Tak dapat dipungkiri, pestisida atau pupuk kimia telah berperan nyata dalam meningkatkan produksi bahan pangan dunia, begitu pula terhadap produksi beras di Indonesia. Mengambil analogi dari contoh kasus tersebut, maka terhadap pengembangan tanaman transgenik, termasuk beras transgenik ialah meminimalisasi risiko.

Menurut Dr. Kartika Adiwilaga, praktisi bioteknologi, diperlukan peraturan, pelaksanaan dan pengawasan peraturan yang transparan sebelum suatu produk bioteknologi dilepas. Pelaksanaan dan pengawasan peraturan hendaknya didukung oleh pakar dari berbagai ilmu, termasuk bioteknologi yang berintegritas tinggi..(Atep Afia Hidayat)

 

 

Posted in: Pangan