Manajemen Pribadi

Posted on 08/01/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Pribadi adalah diri sendiri, aku sendiri, kamu sendiri, masing-masing orang. Manajemen pribadi artinya bagaimana cara pengelolaan diri sendiri, baik menyangkut pengelolaan fisikal, mental, intelektual, spiritual, sosial, manajerial, social, seksual, dan sebagainya. Manajemen pribadi menjadi sangat penting, untuk memandu perjalanan hidup sehingga lebih terarah. Sebagai acuan dari manajemen pribadi tentu saja seperangkat aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta manusia dan alam semesta, yaitu Allah SWT.

Manajemen pribadi dimulai dari perencanaan (planning) atau tujuan hidup. Setiap orang seyogyanya memiliki rencana hidup, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Esok hari rencananya apa saja, target yang hendak dicapai apa. Dalam pekan ini apa rencananya, begitu pula untuk bulan ini dan tahun ini, juga diperinci targetnya secara jelas. Sulit dibayangkan apa yang terjadi jika seseorang tidak memiliki tujuan dan target hidup, maka langkah demi langkahnya akan terlunta-lunta, tak tentu arah. Akhirnya menua tanpa pencapaian yang berarti. Hidup tanpa perencanaan begitu melelahkan, energi dan biaya terbuang percuma, bahkan penuaan dini seringkali terjadi.

Langkah kedua dalam manajemen pribadi ialah mengatur (organizing). Kehidupan pribadi senantiasa dilengkapi potensi, prospek dan kendala yang harus selalu diatur. Bahkan supaya menghasilkan langkah yang efektif dan efisien perlu strategi untuk mengatur semua potensi, prospek dan kendalam tersebut. Kehidupan yang berdurasi hanya 24 jam per hari, 30 hari per bulan, 12 bulan per tahun, bahkan mungkin hanya dalam kisaran 60-70 tahun perlu diatur sedemikian rupa. Setiap orang harus pandai mengatur (to be good at organizing). Kehidupan dan pribadi harus diorganisir dengan baik.

Setelah membuat perencanaan dan target hidup, langkah manajemen pribadi berikutnya ialah menggerakkan (actuating). Hidup hanya berbekal rencana tidak akan menghasilkan apa-apa, oleh sebab itu menggerakkan menjadi kata kunci dalam manajemen pribadi. Ada ungkapan he was actuated by the finest motives (Ia di gerakkan oleh alasan-alasan yang paling baik). Untuk menggerakkan pribadi diperlukan alasan-alasan yang paling baik. Alasan tersebut terhimpun dalam rencana hidup. Jadi antara perencanaan dengan menggerakkan sangat berkaitan erat. Gerakkan butuh panduan, yaitu berupa rencana. Sedangkan rencana butuh aktualisasi atau implementasi, yaitu gerakkan atau tindakkan. Rahasia sukses yang pertama adalah tindakan, rahasia sukses yang kedua adalah tindakan, bahkan rahasia sukses yang keseribu adalah tindakan,

Langkah keempat dalam manajemen pribadi ialah koordinasi (coordination). Bagaimana mengkoordinasikan seluruh rangkaian kehidupan. Pribadi yang baik adalah koordinator yang baik. Setiap orang adalah koordinator bagi dirinya sendiri, bertugas mengatur sedemikian rupa supaya kehidupan dijalani dengan langkah-langkah yang terarah dan terencana, sehingga target kehidupan pun dapat tercapai.

Langkah kelima ialah pengawasan, penilikan, pengaturan, penguasaan atau pembatasan (controlling). Ada istilah everything is under control, segala-galanya dapat dikuasai. Setiap gerak kehidupan harus diawasi, diatur, dikuasi dan dibatasi. Sulit dibayangkan bagaimana jadinya jika aksi pribadi tanpa batasan, bebas aturan. Maka yang akan terjadi ialah bencana demi bencana. Sebaliknya kalau aksi pribadi terlalu dibatasi, terlalu banyak aturan, maka pribadi itu pun akan terkekang, tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Manajemen pribadi melalui controlling ialah membuat keseimbangan sedemikian rupa dalam aksi pribadi.

Langkah terakhir dalam manajemen pribadi ialah evaluasi, penilaian atau penaksiran (evaluation). Setiap orang adalah evaluator atau penilai, minimal terhadap pribadinya. Setiap orang kelak akan dihisab, dinilai seluruh gerak pribadinya atau seluruh amal baik dan buruknya. Sebelum hisab di alam akherat, ada baiknya setiap malam tiba kita menghisab diri sendiri. Apa saja yang dilakukan dalam seharian, mana kinerja baik yang bernilai pahala, mana kinerja buruk yang bernilai dosa. Lebih banyak yang mana?

Itulah manajemen pribadi yang pada akhirnya akan membawa pribadi pada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT. (Atep Afia)

Posted in: Introspeksi