Makna Pengalaman

Posted on 08/01/2010

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

Merasa bodoh, geli, malu, sedih atau menyesal, mungkin itulah yang dirasakan saat ini, ketika kita coba membayangkan beberapa pengalaman masa lalu. Kenapa demikian, hal itu karena setiap pengalaman memberikan bekal tersendiri. Dengan bertambahnya usia maka pengetahuan dan kebijakan seseorang makin meningkat, sehingga kalau beberapa pengalaman direka-ulang dalam pikiran dan perasaan terkini akan terasa janggal atau ganjil. “Kok saya bisa berbuat seperti itu, bodoh sekali. “

Ketika seseorang melakukan suatu perbuatan ‘bodoh’, mungkin pada saat itu merasa benar atau membenarkan diri, tetapi lambat laun muncul penyesalan, bahkan makin mendalam. Timbul perasaan bersalah, seolah tak percaya melakukan perbuatan tersebut. Itulah khilaf, manusia memang sering melakukan perbuatan keliru atau kesalahan.

Seorang ayah baru pulang kerja, tiba di rumahnya disambut puteri kesayangannya dengan penuh suka cita, “Ayah mana bonekanya ?”. Karena kondisi di tempat pekerjaan yang penuh tekanan ditambah perjalanan pulang ke rumah yang juga banyak hambatan, maka sambutan puterinya itu ditanggapi dengan dingin, bahkan terlontar perbuatan negatif berupa wajah tak ramah dan kata-kata ketus, “Boro-boro beli boneka, nggak sempat, ayah cape !”. Beberapa menit berlalu tak ada sesal sang ayah atas perbuatannya itu, ia merasa benar. Tetapi lewat setengah jam, timbul penyesalan mendalam, perbuatannya seketika terkoreksi. Padahal keceriaan diwajah sang puteri kesayangannya sudah raib dan sulit pulih kembali. Dan sang ayah pun dengan susah payah membujuk anaknya, untuk memberinya maaf dan memberi harapan-harapan baru. Betul si anak segera pulih, namun pengalaman yang terjadi barusan tidak hilang, tetapi terekam di bawah sadar, dan suatu ketika bisa dimunculkan kembali melalui reka ulang dalam pikiran dan perasaannya.

Dengan demikian, sebuah maaf itu tidak menghapus sebuah perbuatan buruk, tetapi hanya sekedar pelipur, penutup atau penghalang. Maaf seperti sebuah tabir yang menyembunyikan kesalahan. Dan tabir itu suatu ketika akan tersingkap, sehingga ‘luka’ lama pun akan muncul kembali.

Begitu pula sebuah perbuatan baik, juga akan terekam secara abadi dalam bawah sadar seseorang. Sehingga dampak dari perbuatan tersebut akan mewarnai pencitraan dari pribadi yang memproduksi perbuatan tersebut. Kejadian 33 tahun yang telah berlalu, seorang pramuka pelajar kelas 6 SD dengan teman-temannya, sedang bersiap mengikuti jambore di sebuah tempat, tiba-tiba ada seorang ibu tetangganya, memberinya uang logam Rp. 100. Dan puluhan tahun kemudian, ketika si anak sudah sukses, kejadian ‘indah’ tersebut masih terekam segar dalam ingatannya. Setiap pribadi ternyata memiliki alat perekam yang canggih secara audio-video. Kejadian-kejadian yang sangat berkesan akan tersimpan secara permanen dalam memory seseorang. Sebagian dari kejadian tersebut berpangkal dari perbuatan seseorang.

Dalam kehidupannya setiap orang ‘memproduksi’ keputusan-keputusan. Proses pengambilan keputusan tersebut mengacu pada sekumpulan pengalaman. Adapun pengalaman tersebut adalah akumulasi dari perbuatan-perbuatan. Bagi seorang pemimpin, pengalaman ini menjadi penting sekali, karena setiap keputusannya akan memberikan konsekuensi bagi banyak pribadi. Sulit dibayangkan, jika misalnya presiden yang terpilih sangat miskin pengalaman, maka keputusan yang diambil dalam pemerintahannya bisa menyengsarakan rakyat. Tak heran jika Barack Obama menggandeng calon wakil presiden yang sudah penuh pengalaman. Menurut Dr Ibrahim Elfiky (2007), setiap tindakan dan perilaku seseorang merupakan cerminan dari kepercayaan, nilai dan pengalamannya yang terus bertambah seiring waktu berjalan. Dijelaskan pula, seburuk apapun keputusan yang diambil seseorang, adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya saat itu.

Jangan menghakimi keputusan bodoh yang diambil seseorang. Bantulah mereka memahami situasi yang ada, tawarkan pandangan-pandangan baru dalam melihat masalah dengan baik, sehingga mereka pun mampu mengambii keputusan yang terbaik. Tak heran dunia bisnis atau pemerintahan sering melibatkan apa yang dinamakan konsultan, mereka tugasnya membentu penentu kebijakan dalam mengambil keputusan. Untuk tingkat keluargapun dikenal konsultan keuangan, konsultan pendidikan, konsultan kesehatan, dan sebagainya. Di sekolah-sekolah pun dikenal adanya bagian bimbingan dan konseling, tugasnya memberikan masukan kepada pada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan terbaik.

Keputusan dalam kehidupan memang harus ditempuh, selain mengacu pada pengalaman juga harus disertakan pengetahuan. Pada dasarnya keputusan adalah saat di mana pribadi mengambil tindakan atau perbuatan. Kehidupan harus dikembalikan pada skenario, konsepsi atau rancangan yang sebenarnya. Kehidupan adalah saat di mana manusia menjalani saat demi saat, langkah demi langkah, nafas demi nafas, detak jantung demi detak jantung, kedipan mata demi kedipan mata, gerak demi gerak, kata demi kata, rasa demi rasa, piker demi piker, yang semuanya harus ada acuannya. Setiap saat yang dijalani manusia pasti ada referensinya, setiap gerak yang dijalani manusia tentu ada panduannya, setiap rasa yang dialami manusia jelas ada metodenya. Semuanya itu terisimpan dalam Kitabullah dan Sunah Rasulullah. (Atep Afia)

Posted in: Introspeksi