Wilayah Utara Jakarta Tenggelam 2050 ?

Posted on 14/12/2009

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

 

Kehidupan manusia di Planet Bumi terus dirundung masalah. Belum selesai masalah yang satu, muncul masalah lain, muncul lagi, lagi dan lagi. Masalah tersebut perpangkal dari perilaku manusia sendiri, baik secara kolektif maupun individual. Contoh yang paling mudah dirasakan ialah perubahan iklim.

Dalam hal ini Green Peace Asia Tenggara (www.greenpeace.org/seasia) mencatat, perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Kita telah mengetahui sebabnya – yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi.

Selanjutnya disebutkan, kita sudah mengetahui sebagian dari akibat pemanasan global ini – yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena dampak paling besar – Negara pesisir pantai, Negara kepulauan, dan daerah Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.

Dalam Konferensi Perubahan Iklim, 7 – 18 Desmber 2009, di Kopenhagen Denmark, semua itu terungkap dan didiskusikan kembali. Agenda utama dalam konferensi kali ini ialah membahas post Protokol Kyoto. Menurut data Wikipedia (id.wikipedia.org) , Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Ya, bagaimanapun untuk kenyamanan hidup bersama, dampak perubahan iklim harus diantisipasi sedini mungkin. Bagaimana jadinya jika kondisi iklim Planet Bumi berubah secara fantastis, sehingga tidak layak lagi sebagai habitat umat manusia. Sejauh ini belum diketahui adanya planet lain yang diprediksi mampu menampung pengungsian manusia secara besar-besaran.

Perubahan iklim akan berdampak secara global, tetapi secara geografis terlebih dahulu akan menimpa kawasan pesisir pantai, padahal sebagian kota-kota besar dunia tumbuh dan berkembang di pesisir. Dalam hal ini WWF Global Climate Initiative mencatat, ada sekitar 11 kota di Asia yang rawan terkena dampak perubahan iklim. Posisi pertama yang paling rawan ialah Dhaka (Bangladesh), posisi kedua diduduki Jakarta bersama Manila.

Tekanan terhadap ekosistem Jakarta sangat luar biasa, setiap detik terus dilakukan penambahan material berupa besi, beton, aspal dalam bentuk bangunan-bangunan yang berdampak terhadap penurunan permukaan tanah. Selain itu, akibat permukaan tanah ditutupi material, maka menjadi kedap air, terutama yang bersumber dari air hujan. Pengisian pori-pori tanah oleh air berkurang secara fantastis, di sisi lainnya keberadaan air tanah terus disedot melalui aneka pompa, dari pompa tangan yang paling sederhana sampai jet pump yang kedalaman bor-nya mencapai lebih dari seratus meter. Inilah salah satu penyebab menurunnya permukaan tanah, yang lebih jauh lagi menjadi semakin mudah digenangi air laut dan intrusi pun terjadi. Menurut   Laporan WWF,  jika kondisi lingkungan Jakarta tetap diabaikan, maka bagian utara Jakarta seluas 160 km persegi, bisa tenggelam pada tahun 2050.

Untuk menyelematkan Jakarta dan jutaan kota serta desa lainnya di Planet Bumi, perlu ada upaya global, nasional/lokal dan individual. Upaya global ditempuh melalui kesepakatan-kesepakatan mengenai perubahan iklim yang dijalankan secara konsisten. Bukan hanya sebatas perundingan yang tidak ditindak lanjuti dengan aksinya. Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen dan Protokol Kyoto harus diikuti dengan gerakan kongkrit si semua negara, misalnya secara kolektif menurunkan emisi karbon.

Upaya nasional/lokal perlu ditempuh oleh pemerintah negara, pemerintah provinsi, kabupaten/kota sampai desa, untuk menetapkan kebijakan dan peraturan yang lebih mengedepankan aspek lingkungan. Misalnya peraturan mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH), perlindungan kawasan pesisir, kawasan industri, emisi kendaraan bermotor dan sebagainya.

Upaya individual menyangkut sikap hidup setiap individu manusia. Bagaimanapun, setiap individu harus ramah terhadap lingkungan. Perlu dilakukan evaluasi diri terhadap sikap dan perilaku yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Sebagai contoh, jika satu juta orang menggantikan perjalanan jarak 9 km dengan speda, seminggu sekali, maka jumlah emisi CO2 ( merupakan gas rumah kaca yang paling utama), sekitar 100 ribu ton per tahun.

Nah, sebelum Jakarta Utara dan kawasan lainnya tenggelam, maka setiap orang harus berpartisipasi aktif dalam mengantisipasi perubahan iklim. Mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga, mulai dari hal-hal yang paling kecil. Contohnya menanam pohon, mengurangi pemakaian BBM, mengurangi konsumi air, pola makan yang bersahabat dengan lingkungan, dan sebagainya. (Atep Afia)

Sumber Gambar:

Posted in: Lingkungan