Jalani Kehidupan dengan Proaktif

Posted on 12/12/2009

0


Oleh : Atep Afia Hidayat –

 

Pak Kipli, seorang pasien di RS Jantung Harapan Kota, mengeluh karena akibat dari kinerja jantungnya yang makin melemah, terasa menyiksa seluruh tubuhnya, “Ya, seandainya saya rajin berolahraga, seandainya saya tidak merokok, seandainya saya mengurangi makanan berlemak, mungkin sore hari begini sedang bercengkrama beserta anak dan istri, atau sedang menikmati secangkir teh panas diteras rumah sambil membaca koran sore”. Di sela-sela nafasnya yang berat dan tersengal, kata seandainya terus meluncur dari benak Pak Kipli. Isinya adalah penyesalan, kenapa dirinya membiarkan “monster” sakit jantung datang menghampirinya.

Kenapa Tidak Proaktif

Di sebuah ruang kerja yang cukup representatif, Pak Saprol, seorang direktur PT Angin Ribut, seperti dihinggapi depresi berat. Ekspresi wajahnya menggambarkan hal itu, “Seandainya saya mengubah strategi pemasaran, tentu perusahaan tidak akan pailit seperti sekarang. Seandainya saya lebih memperhatikan keinginan konsumen, tentu angka penjualan tidak semelorot sekarang……”.

Hampir senada dengan kisah Pak Kipli, kondisi yang dihadapi Pak Saprol tak lain akibat kurang sigap dalam mengambil tindakan, akibat tidak proatif. Contoh kisah lainnya, Mulan Kwek, seorang mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Cing Gobang Gocir, sedang termenung dikamar pribadi yang merangkap ruang belajarnya, matanya berkaca-kaca, mukanya memerah, “Seandainya saya rajin belajar, tentu surat peringatan DO tidak akan diterima. Seandainya saya mengerjakan tugas dari dosen dengan baik, tentu tidak akan membuat orangtua kecewa……….” Kata seandainya sering meluncur dari mulut orang yang menyesali sesuatu, baik penyesalan yang ringan atau yang berat.

Salah satu ciri orang yang termasuk kelompok pasivasionis atau propasif ialah banyaknya kata seandainya yang diucapkannya. Kelompok orang yang demikian selalu dalam kondisi akan berbuat, tetapi tidak pernah berbuat. Penuh rencana dan gagasan, kebiasaannya sebelum mengambil tindakan selalu menunggu hingga segalanya 100 persen menguntungkan atau serba kondusif, sehingga tindakannya pun tidak pernah terwujud. Untuk mengilustrasikan hal itu, simaklah cerita berikut: Ada sepuluh anak yang sedang belajar berenang, berdiri di pinggiran kolam. Kemudian empat anak di antaranya merencanakan nyebur ke kolam. Muncul pertanyaan, berapa jumlah anak yang masih berdiri di pinggiran kolam ?

Formula Proaktif

Pergerakan yang dinamis, itulah kalimat kunci yang menggambarkan berbagai fenomena kehidupan. Detak jantung manusia, gerakan kation dan anion mengelilingi inti atom, rotasi bumi dan planet lain mengitari matahari, bahkan bumi pun selalu berputar pada sumbunya dengan kecepatan tertentu. Tak ada yang diam, semuanya selalu bergerak. Diamnya gerak jantung berarti kematian, berhentinya rotasi bumi berarti kiamat. Dengan demikian, pada prinsipnya kehidupan tidak mengenal statis, tidak mungkin dijalani dengan pasif. Perlu ada gerakan terus-menerus, diharuskan mengambil tindakan setiap saat. Berhentinya gerakan dan tindakan berarti “mati” sebelum waktunya.

Kehidupan memang perlu dijalani dengan proaktif. Kalau saat ini kita melihat ada pribadi-pribadi sukses, ada organisasi-organisasi bisnis yang mapan, bahkan ada negara-negara yang kuat, tak lain merupakan produk dan akumulasi dari langkah-langkah proaktif. Sebaliknya banyak ditemukan adanya pribadi-pribadi terpuruk, organisasi bisnis yang ambruk, bahkan negara yang bangkrut, tak lain merupakan produk dan akumulasi dari langkah-langkah propasif. Bermula dari perosalan yang datang satu persatu atau bertubi-tubi, namun tidak ada langkah sistematis untuk penyelesaiannya.

Kalaupun ada langkah yang ditempuh, hanya sebatas rencana atau retorika, tidak berupa tindakan. Maka perlahan tapi pasti keterpurukan, keambrukan dan kebangkrutan datang menghampiri. Sekitar 14 abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW sudah memperingatkan: “Manfaatkan sebaik-baiknya lima kesempatan, sebelum (datang) yang lima; masa muda sebelum datang masa tua Anda; kondisi sehat sebelum Anda jatuh sakit; saat kaya sebelum Anda jatuh miskin; masa hidup sebelum datang kematian anda; dan masa senggang sebelum Anda sibuk”.

Jika kita cermati, formula proaktif dari Nabi Muhammad SAW merupakan kunci untuk mensiasati kehidupan yang serba dinamis. Kondisi A yang terdiri dari usia muda, kondisi sehat, saat kaya, masa hidup dan masa senggang adalah modal utama untuk meraih kesuksesan hidup. Maka potensi tersebut harus direncanakan dan digarap secara “profesional”, jangan pernah disia-siakan. Sebab kondisi A sewaktu-waktu atau kapanpun bisa segera berubah menjadi kondisi B dengan ciri usia tua, kondisi sakit, jatuh miskin, kondisi sibuk dan datangnya kamatian.

Eksplorasi secara proaktif kondisi A sebelum tibanya kondisi B. Dalam hal ini Schwartz (1996), merumuskan cara untuk menumbuhkan kebiasaan bertindak atau proaktif:
1. Jadilah “aktivasionis“. Jadilah orang yang berbuat. Jadilah pelaksana, bukan sebaliknya.
2. Jangan menunggu hingga keadaannya sempurna karena itu tidak akan pernah terjadi.
3. Ingat, gagasan saja tidak akan memberikan keberhasilan. Gagasan mempunyai nilai hanya jika Anda melaksanakannya.
4. Gunakan tindakan untuk menghilangkan ketakutan dan mendapatkan kepercayaan diri. Kerjakan apa yang Anda takutkan dan ketakutan pun menghilang. Coba dan lihat hasilnya.
5. Mulai mesin mental Anda secara mekanis. Jangan menunggu hingga jiwa` Anda menggerakkan Anda. Ambil tindakan, galilah, dan Anda menggerakkan jiwa Anda.
6. Berpikirlah dalam pengertian sekarang. Besok, minggu depan, nanti dan kata-kata serupa kerap merupakan sinonim dari kata kegagalan tidak pernah.
7. Segeralah bertindak. Jangan membuang-buang waktu menyiapkan diri untuk bertindak. Mulailah bertindak.
8. Ambil inisiatif. Jadilah pelopor. Ambillah insiatif dan laksanakan. Jadilah sukarelawan. Perlihatkan bahwa Anda mempunyai kemampuan dan ambisi untuk berbuat.

Model Proaktif

Kehidupan begitu dinamis, penuh dengan gerakan yang pasti. Semua langkah mengacu ke depan, setapak demi setapak, hingga akhirnya tiba di tempat singgah. Tidak ada yang tanpa makna, meski kebermaknaan tersebut tidak selalu positif. Rangkaian peristiwa dalam kehidupan adalah untaian makna, baik itu yang bersifat positif atau negatif. Adakah makna yang nol, tidak bernilai atau bebas point. Ternyata tidak ada, karena kehidupan tak pernah mengenal statif. Selalu berjalan, bergerak, berdetak tak pernah henti. Dalam diam pun selalu ada yang bergerak. Statif, pasif, diam atau dorman berarti kebermaknaan negatif, bukan nol.

Ada diam emas, maksudnya dalam diamnya fisik terdapat gelora jiwa yang bergerak positif, mengungkap kebermaknaan hidup atau kehidupan bermakna. Ada gerak emas, maksudnya dalam pergerakan sejalan kehidupan ada setumpuk makna positif yang di raih.
Untuk diam emas dan gerak emas perlu proaktif, karena keduanya merupakan produk dari pilihan sadar. Diam emas dan gerak emas adalah perilaku, yang terwujud karena kemampuan untuk memilih respons.

Teori model proaktif dari Covey (1994) menyatakan, bahwa proaktivitas adalah kebebasan untuk memilih stimulus tertentu untuk menjadi respons tertentu, sehingga menghasilkan kesadaran diri, imajinasi, suara hati dan kehendak bebas tertentu. Selanjutnya dikemukakan, bahwa orang yang proaktif tetap dipengaruhi oleh stimulus luar, entah fisik, sosial atau psikologis. Namun respons mereka terhadap stimulus tersebut, sadar atau tidak sadar, didasarkan pada pilihan atau respons yang berdasar nilai. Pribadi yang proaktif bukan hanya dapat dilihat dari tindakannya, tetapi juga dari bahasanya. Perhatikan tabel berikut:

Bahasa yang Proaktif
Mari kita lihat alternatif yang kita miliki
Saya dapat memilih pendekatan yang berbeda
Saya mengendalikan perasaan saya sendiri
Saya dapat menghasilkan presentasi yang efektif
Saya akan memilih respons yang sesuai
Saya memilih
Saya lebih suka
Saya akan

Bahasa yang Propasif/Reaktif
Tidak ada yang dapat saya lakukan
Memang sudah begitulah saya
Ia membuatku begitu marah
Mereka tidak akan mengijinkan itu
Saya terpaksa melakukan itu
Saya tidak bisa
Saya harus
Seandainya saja

Sumber : Covey (1994)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pribadi yang proaktif ditandai dengan gaya bahasa yang juga proaktif. Saran aplikasi dari Covey: selama satu hari penuh, dengarkanlah bahasa anda dan bahasa orang-orang di sekitar anda. Berapa sering anda menggunakan dan mendengar frasa-frasa reaktif seperti “Seandainya saja”, “Saya tidak bisa”, atau “Saya harus” ? Untuk berubah menjadi pribadi yang proaktif minimalis, artinya perubahannya relatif kecil, kita dapat berfokus secara tepat pada pada perilaku dan sikap kita.

Tetapi jika ingin menjadi pribadi yang proaktif maksimalis, artinya berhasil membuat perubahan kuantum (perubahan mendadak dan ekstensif) yang bermakna, kita perlu memperbaiki paradigma dasar kita. Menurut Covey, paradigma tidak lain merupakan realitas subyektif; hanya sebuah upaya untuk menjabarkan wilayah atau prinsip-prinsip. Sedangkan realitas obyektif merupakan wilayah atau prinsip-prinsip itu sendiri, merupakan bagian dari agama yang besar dan abadi, juga filosofi sosial dan sistem etika yang abadi, merupakan bagian dari kondisi, kesadaran dan suara hati manusia.

Model proaktif maksimalis perlu mengacu pada paradigma dasar. Bagi seorang muslim, paradigma dasar itu ada pada kalimat : “Inna shalati wa nusuki wa mah yaya wa mamati liilahirobbil alamin”, yang berarti “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam“. Dengan demikian, seluruh gagasan dan tindakan, seluruh langkah proaktif sepenuhnya ditujukan untuk Allah SWT. Maka seluruh langkah proaktif dalam 24 jam, sepanjang hayat dikandung badan harus diawali: “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, yang artinya: “Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang“. (Atep Afia)

Referensi :
Covey, S.R. (1994). Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif Terjemahan). Binarupa Aksara. Jakarta.
Nawawi, M. (2005). Nasehat Buat Hamba Allah (Terjemahan). Amelia. Surabaya.
Schwartz, D.J. (1996). Berpikir dan Berjiwa Besar (Terjemahan). Binarupa Aksara. Jakarta.

Silahkan sebar luaskan tulisan ini untuk kebaikan bersama, dengan tetap mencantumkan sumbernya (URL-nya).

Posted in: Introspeksi