Dokter dan Jamu

Posted on 11/12/2009

0


Sumber : www.restodb.comOleh : Atep Afia Hidayat –

 

Selama ini dokter identik dengan obat. Pergi berobat ke dokter manapun dan di manapun, pulangnya selalu dibekali resep, yang berisikan catatan mengenai daftar obat yang harus ditebus di apotek. Di Indonesia mungkin bisa dikatakan masih langka dokter memberikan obat berupa jamu, tetapi di Cina dan beberapa negara Asia lainnya sudah termasuk lajim. Perkembangan ilmu kedokteran barat yang mengandalkan obat dan kedokteran timur yang mengedepankan jamu, sebenarnya bisa berjalan seiring dan sejalan.

Jamu sebenarnya sudah menjadi tradisi dalam riwayat kesehatan sebagian masyarakat Indonesia. Jamu adalah warisan nenek moyang, yang dapat bertahan secara turun-temurun. Dengan demikian, jamu sudah mendapat tempat dan kepercayaan untuk mengobati penyakit tertentu. Persoalannya kenapa sebagian dokter di Indonesia seperti masih “alergi” dengan jamu.

Jika dokter bisa berdampingan dengan jamu, maka banyak manfaat positif yang diperoleh, antara lain terpeliharanya tradisi kesehatan masyarakat, berkembangnya industri jamu, dan terangkatnya ilmu pengobatan bangsa Indonesia. Dalam hal ini, tak kurang dari Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Kesehatan, Agus Purwadianto (dalam Kompas, 9 Desember 2009), menghimbau agar para dokter ikut memasyarakatkan penggunaan jamu sebagai upaya promotif , preventif dan rehabilitatif dalam kegiatan praktik pribadi mereka sehari-hari. Menurutnya, jamu yang digunakan harus sudah direkomendasikan Balitbang Depkes serta Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Sebanarnya ilmuwan-ilmuwan bidang kesehatan di Amerika Serikat dan Jerman pun saat ini makin instensif dalam mengeksplorasi khasiat tanaman obat, bahkan berupaya menguasai hak paten. Ilmuwan barat sudah terinspirasi oleh perkembangan di Cina, India, Jepang dan Korea yang sudah berabad-abad berupaya mengembangan tanaman obat.

Sebenarnya perlahan namun pasti, penggunaan obat tradisional termasuk jamu, di indonesia makin meningkat.  Sebagian besar masyarakat menggunakan obat tradisional mengacu pada pengalaman, bukan berdasarkan petunjuk dokter.

Supaya terjadi harmonisasi dan sinkronisasi, maka hubungan antara dokter dengan obat tradisional termasuk jamu, harus semakin mesra. Oleh sebab itu, tanggal 28 Desember 2009, di Jawa Tengah, akan dilakukan pencanangan Griya Sehat, sebagai upaya dan model untuk memasukkan jamu dalam praktek kedokteran.

Jangan heran, jika tak lama lagi para dokter akan memberikan resep berupa temulawak, kunyit, jahe, dan sebagainya. (Atep Afia)

Sumber Gambar :

Posted in: Kesehatan